Agus Subiyanto Resmikan KRI Sriwijaya-100, Tonggak Baru Kejayaan Maritim Nusantara
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto kembali mencatatkan namanya dalam sejarah pertahanan Indonesia. Mewakili Presiden RI Prabowo Subianto yang berhalangan hadir, agus subiyanto bertindak sebagai inspektur upacara dalam prosesi penamaan dan penurunan bendera Italia menjadi Indonesia, serta pelantikan komandan kapal induk KRI Sriwijaya-100 di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026). Momen bersejarah itu menandai untuk pertama kalinya Indonesia resmi memiliki armada kapal induk dalam jajaran TNI Angkatan Laut.
“Pada hari ini, Kamis, 24 September 2026, saya Jenderal TNI Agus Subiyanto, Panglima TNI, dengan ini saya resmikan KRI Sriwijaya-100 masuk ajaran TNI AL,” tegas Agus di hadapan para tamu undangan yang memenuhi dermaga.
Kapal induk yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi (C551) itu berangkat dari Pelabuhan Tarento, Italia pada 24 Agustus 2026. Sepanjang pelayarannya menuju Indonesia, kapal produksi Fincantieri tersebut singgah di Pelabuhan Safaga, Mesir, setelah melewati Terusan Suez, kemudian berlabuh di Pelabuhan Kolombo, Sri Lanka. Selanjutnya, kapal melintasi Selat Malaka, melalui Singapura dan Perairan Batam, sebelum akhirnya bersandar di Jakarta sebagai persinggahan akhir.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengumumkan nama resmi KRI Sriwijaya-100 sekaligus mengakhiri desas-desus yang beredar di publik bahwa kapal induk tersebut akan diberi nama KRI Gajah Mada. Menurut Ali, pemilihan nama Sriwijaya merujuk pada kebesaran Nusantara dan kejayaan bangsa maritim pada masa lampau.
“Sriwijaya kerajaan maritim Indonesia yang tertua ya. Lebih tua dari Majapahit. Makanya dipilih itu,” kata Ali.
Dalam sambutannya, agus subiyanto menegaskan bahwa Indonesia memiliki wilayah yang sangat strategis karena terdiri dari berbagai pulau dan dilintasi jalur-jalur laut utama. Kondisi tersebut, menurut dia, menuntut Indonesia memiliki pertahanan maritim yang kuat agar wilayah laut dapat dijaga secara maksimal.
“Kehadiran KRI Sriwijaya di jajaran TNI Angkatan Laut merupakan wujud nyata modernisasi alutsista TNI,” ujar agus subiyanto.
Prosesi tersebut turut dihadiri KSAL Italia Laksamana Giuseppe Berutti Bergotto, menandakan eratnya kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Italia. Penamaan dan penurunan bendera Italia menjadi Indonesia serta pelantikan komandan Sriwijaya berlangsung lancar meski tanpa kehadiran kepala negara.
Komitmen di Tengah Berbagai Agenda Pertahanan
Kepemimpinan agus subiyanto di tubuh TNI juga tampak dalam sejumlah agenda penting lainnya. Pada Senin (19/10), ia dipanggil Presiden Prabowo Subianto untuk mengikuti rapat terbatas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Istana Merdeka, Jakarta. Dalam rapat itu, Presiden memerintahkan perluasan operasi udara penanganan karhutla, termasuk penambahan armada pesawat Hercules untuk mendukung operasi es kering yang sebelumnya hanya menggunakan pesawat jenis Casa.
“Hasil ratas tadi petunjuk langsung bapak Presiden tentang penanganan penanggulangan karhutla, bapak Presiden menyampaikan bahwa penanganan karhutla harus betul-betul masif,” ujar Menko Polkam Dudung Abdurachman dalam konferensi pers.
Selain itu, pemerintah memerintahkan perusahaan membangun embung dan sumur bor, sementara TNI dan Polri diminta memetakan titik-titik rawan terbakar agar penanganan dilakukan sejak dini, bukan hanya setelah api meluas.
Sehari kemudian, Selasa (20/10), agus subiyanto memimpin upacara pemakaman mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Upacara yang dimulai pukul 13.30 WIB itu dihadiri Wakil Panglima TNI Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAD Jenderal Tandyo Budi Revita, KSAL Laksamana Muhammad Ali, KSAU Marsekal Mohamad Tonny Harjono, serta Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.
“Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya dapat menjadi teladan bagi kita semua dan arwahnya mendapat tempat yang terbaik, di sisi Tuhan yang Mahabesar,” ucap Agus saat memimpin upacara.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menghadiri persemayaman Almarhum Jenderal Subagyo di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta. Setibanya di Mabesad, Presiden disambut Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Wakil Menteri Pertahanan Marsekal TNI Yusuf Jauhari, serta KSAD Jenderal Tandyo Budi Revita. Almarhum Subagyo merupakan lulusan Akabri 1970 yang pernah menjabat Danjen Kopassus pada 1994-1995 dan KSAD pada Februari 1998 hingga November 1999, mengemban jabatan pada masa tiga Presiden, yakni Soeharto, BJ Habibie, dan Abdurrahman Wahid. Ia wafat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pada Senin (19/10) pukul 16.20 WIB karena sakit.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan peran sentral agus subiyanto sebagai Panglima TNI dalam menjaga kedaulatan, modernisasi alutsista, sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada para tokoh bangsa. Kehadiran KRI Sriwijaya-100 di bawah komando TNI AL menjadi simbol kebangkitan kejayaan maritim Nusantara yang diharapkan mampu memperkuat pertahanan Indonesia di kawasan strategis. Dengan wilayah laut yang luas dan dilintasi jalur perdagangan dunia, Indonesia kini memiliki pangkalan terapung yang memperkokoh posisinya sebagai bangsa maritim modern.
