Ketegangan Memuncak: Netanyahu Serukan Penggulingan Rezim Iran di Tengah Bayang-Bayang Isolasi Ekonomi Israel
Kalimantan Update – 24 Oktober 2026 | Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali membuat pernyataan yang mengguncang panggung politik internasional. Dalam pernyataan yang disampaikan pada Rabu malam, Netanyahu menegaskan bahwa rezim Iran harus digulingkan sekali dan untuk selamanya, seraya mengklaim bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menyatakan kesiapan Washington untuk “menuntaskan pekerjaan tersebut”. Pernyataan ini muncul di tengah persiapan militer Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir untuk kemungkinan serangan tambahan terhadap Iran pasca pemilihan paruh waktu, menjadikan posisi israel semakin berada di pusat pusaran geopolitik Timur Tengah yang kian panas.
Seruan Netanyahu tersebut bukan tanpa konsekuensi. Iran dikabarkan mengancam akan memberikan respons yang luas apabila tekanan militer dan politik terus meningkat. Eskalasi retorika ini memperlihatkan bahwa konflik antara israel dan Iran belum menemukan titik terang, bahkan cenderung memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia melonjak ke level tertinggi dalam lima bulan, dengan Brent mencapai 114,72 dolar AS per barel, tertinggi sejak 4 Mei dan naik satu persen pada hari itu. Kekhawatiran pasar terhadap ketidakstabilan kawasan jelas tercermin dalam lonjakan harga energi global tersebut.
Ketegangan di kawasan juga diperparah oleh berbagai peristiwa lain. Arab Saudi memerintahkan evakuasi markas Saudi Aramco di Dhahran, dekat Bahrain, seiring meningkatnya pertempuran dengan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Sementara itu, militer israel menutup wilayah Tepi Barat setelah tentara israel menembak mati dua warga Palestina yang dituduh melakukan penembakan di dekat kota Hebron. Netanyahu sendiri menuding Hamas tengah merencanakan serangan besar yang bertujuan membunuh warga sipil tak berdosa, dengan sedikitnya lima orang dilaporkan terluka.
Di tengah gejolak keamanan tersebut, israel menghadapi tantangan ekonomi yang tak kalah serius. Dalam wawancara dengan jurnalis Roi Katz di Channel 10 pada Jumat, 23 Oktober 2026, empat hari menjelang pemilihan legislatif 27 Oktober, Netanyahu mengakui perlunya mempersiapkan diri terhadap kemungkinan sanksi ekonomi dan perbankan internasional. Ia bahkan mengungkapkan telah meminta penyusunan rencana untuk menjaga transaksi keuangan negara apabila pembatasan dijatuhkan oleh lembaga asing, termasuk melalui pemanfaatan mata uang kripto dan teknologi blockchain sebagai solusi alternatif terhadap jalur perbankan tradisional.
Pengakuan ini menandai pergeseran signifikan dalam retorika Netanyahu, yang selama ini menekankan ketahanan ekonomi israel serta kemampuannya menarik investasi internasional. Kini, ia secara terbuka mengakui bahwa isolasi finansial dapat menjadi risiko strategis yang besar. Kekhawatiran tersebut beralasan mengingat ekonomi israel sangat bergantung pada perdagangan luar negeri. Data Otoritas Inovasi israel yang dikutip N12 menunjukkan ekspor teknologi tinggi mencapai 85 miliar dolar AS pada 2025, atau sekitar 58 persen dari total ekspor negara. Namun, para pakar yang diwawancarai Globes menilai bahwa mata uang digital bukan solusi ajaib, karena transaksi kripto tetap dapat dilacak dan perusahaan asing tetap terikat pada hukum serta rezim sanksi negaranya masing-masing.
Netanyahu juga menyatakan bahwa israel harus mengantisipasi pengurangan bertahap, bahkan hilangnya, bantuan militer Amerika Serikat yang saat ini mencapai 3,8 miliar dolar AS per tahun dalam kerangka kesepakatan sepuluh tahun dengan Washington yang berakhir pada 2028. Sementara itu, di dalam negeri, isu kontroversial tentang wajib militer bagi pria Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi) menjadi salah satu topik sentral menjelang pemungutan suara. Diperkirakan 100.000 pria Haredi memenuhi syarat untuk wajib militer, dengan sekitar 13.000 pemuda mencapai usia wajib militer setiap tahunnya. Mahkamah Agung israel pada Juni 2024 memutuskan bahwa pengecualian menyeluruh bagi mahasiswa seminari agama tidak sah, dan pada September 2026 juga membatalkan undang-undang yang melindungi mereka dari penangkapan.
Selain itu, Pengadilan Nasional Spanyol (Audiencia Nacional) memutuskan untuk mempertahankan penyelidikan terhadap perusahaan pelayaran Maersk atas dugaan penyelundupan senjata dari Amerika Serikat ke israel. Hakim menilai terdapat “cukup indikasi tindak pidana” untuk melanjutkan penyelidikan terhadap pihak-pihak yang diperiksa, terkait dugaan pengiriman material perang melalui Pelabuhan Algeciras pada September dan Oktober 2024.
Dengan dua tahun perang di Gaza dan konflik dengan Iran yang belum terselesaikan, israel menghadapi pemilihan yang luar biasa berat. Tekanan eksternal, ketidakpastian ekonomi, dan perpecahan domestik menyatu dalam satu titik kritis. Apa pun hasil pemilu nanti, tantangan yang dihadapi israel tidak akan surut dengan sendirinya. Seruan penggulingan rezim Iran, ancaman isolasi ekonomi, dan krisis wajib militer Haredi merupakan tiga wajah dari satu persoalan yang sama: bagaimana israel mempertahankan posisinya di tengah dunia yang semakin tidak bersahabat. Tanpa strategi yang matang dan keseimbangan antara kekuatan militer serta ketahanan diplomasi, risiko isolasi yang selama ini dianggap mustahil justru bisa menjadi kenyataan yang harus dihadapi.
