Tragedi Gempa Tibet: 16 Nyawa Melayang, Ribuan Warga Mengungsi di Tengah Dingin Ekstrem
Kalimantan Update – 24 Oktober 2026 | Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7 mengguncang wilayah terpencil di Tibet, China barat, pada Kamis malam (22/10/2026), dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan luas. Hingga Jumat sore, otoritas setempat melaporkan sedikitnya 16 orang tewas, 76 lainnya luka-luka, dan 12.489 orang terpaksa mengungsi. Bencana ini menjadi salah satu yang terburuk di Tibet dalam beberapa tahun terakhir, dengan medan pegunungan tinggi dan suhu dingin ekstrem yang menyulitkan upaya penyelamatan.
Pusat gempa berada di Nagqu, sebuah kota di utara Lhasa, ibu kota Tibet, pada ketinggian sekitar 4.800 meter di atas permukaan laut. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat episentrum gempa berada sekitar 191 kilometer timur-timur laut Nagqu, dengan kedalaman 18 kilometer. Setidaknya tujuh gempa susulan dengan magnitudo antara 4,3 hingga 5,2 turut mengguncang wilayah tersebut, memicu kekhawatiran akan runtuhnya bangunan yang sudah lemah.
Data sementara menunjukkan lebih dari 300 rumah warga rusak atau rata dengan tanah. Sebanyak 339 unit rumah dilaporkan ambruk, menurut laporan media pemerintah China. Wali Kota sementara Nagqu, Dunzhu, dalam konferensi pers mengatakan tim penyelamat telah melakukan tiga putaran pencarian menyisir setiap rumah dan desa. “Kami terus berupaya maksimal,” ujarnya. Hingga saat ini, tidak ada laporan warga yang hilang.
Pemerintah China mengerahkan lebih dari 5.000 personel dari tiga kabupaten untuk operasi pencarian dan penyelamatan. Mereka terbagi dalam tim pencarian, bantuan medis, relokasi, dan logistik. Tentara juga dikerahkan, dengan lebih dari 400 personel militer dan milisi dikerahkan, termasuk melakukan pengintaian udara menggunakan dua drone di beberapa desa. Kementerian Manajemen Darurat menaikkan tingkat respons nasional dari level empat menjadi level tiga, menandakan skala bencana yang signifikan.
Presiden China Xi Jinping memerintahkan agar upaya penyelamatan difokuskan pada pencarian korban selamat dan perawatan bagi yang terluka. “Kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, dan melakukan segala upaya untuk merawat mereka yang luka-luka, demi meminimalkan jumlah korban,” kata Xi, seperti dikutip Xinhua. Ia juga menekankan pentingnya pengiriman bantuan dan peralatan penyelamat ke area terdampak.
Bantuan logistik terus berdatangan, termasuk 2.000 unit hunian prefabrikasi, sekitar 3.400 tenda, 2.000 tempat tidur lipat, serta lampu senter dan pakaian musim dingin. Namun, cuaca buruk menjadi tantangan tersendiri. Badan meteorologi memperkirakan hujan salju intermiten akan melanda wilayah itu selama tiga hari ke depan, berpotensi memperlambat evakuasi dan distribusi bantuan. Selain itu, longsor batu akibat gempa memaksa penutupan sebagian Jalan Raya Nasional 317, yang hanya dibuka untuk kendaraan darurat, penyelamatan, dan dukungan resmi.
Komunikasi di beberapa daerah juga dilaporkan terputus, dan otoritas perkeretaapian setempat menangguhkan sementara layanan kereta yang melintasi wilayah tersebut. Warga Tibet yang selamat mengaku trauma dan takut kembali ke rumah mereka karena gempa susulan yang terus terjadi. Seorang warga Nagqu, seperti dilaporkan media pemerintah, mengatakan bahwa ia dan keluarganya memilih bertahan di tenda pengungsian meskipun suhu udara sangat dingin.
Wilayah Tibet memang rawan gempa karena berada di zona tumbukan lempeng tektonik. Namun, akses terbatas dan kondisi geografis yang ekstrem sering kali memperumit upaya penanggulangan bencana. Pemerintah China menghadapi tantangan besar untuk menjangkau korban di daerah terpencil, terutama dengan datangnya musim dingin yang dapat memperburuk kondisi para pengungsi.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih bekerja keras di bawah tekanan waktu dan cuaca. Masyarakat internasional menyampaikan simpati dan menawarkan bantuan, meskipun otoritas China belum memberikan konfirmasi mengenai penerimaan bantuan asing. Peristiwa ini kembali mengingatkan akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di kawasan rawan gempa seperti Tibet.
Dengan jumlah korban yang masih mungkin bertambah, fokus utama saat ini adalah evakuasi dan perawatan korban luka. Pemerintah setempat berjanji akan terus memperbarui informasi dan memastikan seluruh kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Semoga tragedi ini menjadi momentum untuk memperkuat infrastruktur tahan gempa di wilayah Tibet dan meningkatkan kesadaran akan risiko bencana di kawasan pegunungan tinggi.
