Lula Cetak Sejarah Empat Periode, Menang Dramatis atas Flávio Bolsonaro di Pilpres Brasil 2026
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Kemenangan dramatis Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil 2026 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam politik Amerika Latin. Presiden petahana dari Partai Pekerja (PT) itu berhasil membalikkan keadaan dan mengalahkan senator Flávio Bolsonaro dari Partai Liberal (PL) pada putaran kedua yang digelar Minggu, 25 Oktober 2026. Dengan demikian, Lula memastikan diri meraih mandat keempatnya sebagai kepala negara Brasil, sebuah pencapaian yang nyaris tak terbayangkan ketika ia tertinggal pada putaran pertama.
Berdasarkan penghitungan suara yang telah mencapai 99,9 persen, Lula memperoleh 51,79 persen atau sekitar 64.255.969 suara, sementara Flávio Bolsonaro mengantongi 48,21 persen atau 59.826.002 suara. Dari total 158.745.502 pemilih yang terdaftar, tingkat partisipasi mencapai 80,78 persen atau 128.235.762 suara. Sementara itu, terdapat 1,12 persen suara blanko dan 2,12 persen suara tidak sah. Angka tersebut menegaskan betapa ketatnya persaingan kedua kubu hingga penghitungan terakhir.
Kebangkitan dari Keterpurukan
Yang membuat kemenangan ini begitu istimewa adalah kemampuan Lula membalikkan defisit suara. Pada putaran pertama, Flávio Bolsonaro unggul sekitar 2,2 juta suara. Namun, dalam kurun waktu menuju putaran kedua, Lula tidak hanya menutup selisih tersebut, tetapi juga memperlebar keunggulannya hingga lebih dari 4,4 juta suara. Salah satu faktor penentu adalah pergeseran dukungan di negara bagian Minas Gerais, yang selama ini dikenal sebagai barometer politik nasional. Minas menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami perubahan kepemimpinan dibandingkan putaran pertama, dengan Lula menang lebih dari 100 ribu suara di sana.
Dalam pidato kemenangannya di Hotel Intercontinental, São Paulo, pada Minggu malam, Lula tampil penuh emosi. “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati kaum muda Brasil. Saya berterima kasih kepada mereka yang kami yakinkan bahwa suara mereka sangat penting,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pemilu kali ini merupakan “kekalahan bagi negasionisme dan kebohongan”. Presiden berusia 81 tahun itu juga berjanji akan mengubah cara memerintah negara dan akan sering berdialog langsung dengan rakyat. “Saya harus memerintah untuk 215 juta rakyat Brasil, untuk semua kota. Semua agama akan dihormati secara setara,” tegasnya.
Reaksi Publik dan Pasar Keuangan
Kemenangan Lula langsung memantik gelombang reaksi di dunia maya. Pendukungnya, termasuk kelompok yang dikenal sebagai “Exército do Lula” yang digerakkan oleh anggota parlemen André Janones, membanjiri media sosial dengan ucapan selamat. Tagar “AMÉRICA LATINA TÁ VIVA” sempat menjadi trending topic. Sebaliknya, kubu Flávio Bolsonaro menjadi sasaran sindiran, terutama karena ia akan kehilangan jabatan publik untuk pertama kalinya setelah 24 tahun berkarier di dunia politik.
Di sisi lain, pasar keuangan merespons dengan volatilitas tinggi. Bursa-bursa Eropa justru dibuka menguat pada Senin pagi, 26 Oktober 2026. Indeks DAX Jerman naik 0,69 persen ke level 25.359 poin, indeks Euro Stoxx 50 menguat 0,39 persen ke 6.092 poin, dan indeks CAC Prancis naik 0,89 persen ke 7.852 poin. Namun, di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang justru melemah 0,80 persen ke 62.189 poin akibat tekanan pada saham teknologi dan semikonduktor. Sementara itu, dana yang diperdagangkan di Bursa New York yang melacak saham-saham Brasil, EWZ, merosot tajam hampir 18 persen pada perdagangan pasca-pasar, dan nilai tukar real terdepresiasi sekitar 10 persen terhadap dolar AS dalam kontrak berjangka.
Pelantikan dan Tantangan ke Depan
Sesuai ketentuan konstitusi Brasil, Lula akan dilantik pada 5 Januari 2027, empat hari lebih lambat dari jadwal tradisional. Perubahan tanggal ini juga berdampak pada pelantikan para gubernur yang dijadwalkan pada 6 Januari. Setelah resmi menjabat, Lula akan memimpin Brasil hingga akhir 2030, menghadapi tantangan berat seperti pemulihan ekonomi, pengendalian inflasi, dan rekonsiliasi politik di tengah polarisasi yang tajam.
Perjalanan politik Lula, yang lahir pada 27 Oktober 1945 di wilayah timur laut Brasil, memang penuh liku. Sebagai anak ketujuh dari pasangan buta huruf, ia sempat menjadi penjual asongan dan tukang semir sepatu sebelum berkarier sebagai aktivis serikat pekerja di São Bernardo do Campo pada 1968. Kini, ia kembali menorehkan sejarah sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di abad ke-21.
Kemenangan ini bukan sekadar kemenangan elektoral, melainkan simbol ketangguhan demokrasi Brasil dan bangkitnya kembali kekuatan progresif di kawasan. Dengan modal legitimasi suara yang kuat, Lula kini dituntut untuk membuktikan bahwa periode keempatnya mampu menjawab ekspektasi rakyat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
