Bukan Tanda Musim Hujan, Hujan Deras di Jatim hingga Kotim Ternyata Efek Modifikasi Cuaca
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Timur hingga Kalimantan Tengah, belakangan ini diguyur hujan lebat di tengah musim kemarau. Fenomena tersebut bukan pertanda datangnya musim penghujan, melainkan dampak langsung dari operasi modifikasi cuaca yang digencarkan pemerintah untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung pada 24–29 Oktober 2026 itu digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menegaskan bahwa hujan deras yang melanda Pasuruan, Probolinggo, dan Sidoarjo dalam dua hari terakhir murni merupakan efek modifikasi cuaca. “Jadi di wilayah Pasuruan dan Probolinggo saya pastikan juga itu karena operasi modifikasi cuaca, bukan karena Jatim sudah masuk dalam musim hujan,” kata Taufiq saat Bimbingan Teknis Peliputan Bencana Jawa Timur di Surabaya, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, OMC dilakukan melalui pengerahan sejumlah penerbangan dengan rute yang mengarah ke Sidoarjo, Probolinggo, dan sebagian Pasuruan. “Karena sorti yang dilakukan ada track-nya yang mengarah ke daerah Sidoarjo, Probolinggo, dan sebagian Pasuruan, itu yang mengakibatkan hujan di daerah tersebut,” ujarnya. Selain itu, wilayah lain yang menjadi sasaran modifikasi cuaca adalah Malang dan sebagian Bondowoso, sementara kawasan Mataraman belum digelar operasi serupa.
Antisipasi Karhutla di Tengah Kemarau
Di Jombang, Kepala Pelaksana BPBD setempat, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, membenarkan bahwa hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir merupakan hasil rekayasa cuaca Pemprov Jawa Timur. “Kemarin sudah ditandai hujan itu adalah hasil rekayasa cuaca Pemprov dalam rangka mengantisipasi karhutla,” kata Wiku, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, langkah tersebut diambil menyusul kebakaran di sejumlah kawasan, termasuk Gunung Bromo, Gunung Arjuno, dan tempat pembuangan akhir (TPA) di wilayah Malang. “Karena banyaknya kebakaran di area Gunung Bromo, Arjuno, dan sekitarnya, terus juga TPA di Malang, ini perlu rekayasa cuaca untuk mengantisipasi agar tidak berkembang atau melebar ke mana-mana,” jelasnya. Operasi modifikasi cuaca tersebut, kata Wiku, masih terus berlanjut dengan tujuan utama memicu turunnya hujan guna menekan karhutla agar tidak meluas. Ia menambahkan, penetapan perkembangan musim tetap mengacu pada informasi resmi BMKG. “Kita masih menunggu rilis resmi dari BMKG. Ini sementara masih posisi kemarau,” katanya.
Bagaimana Teknologi Modifikasi Cuaca Bekerja?
Praktik modifikasi cuaca dilakukan dengan memanfaatkan awan yang sudah terbentuk secara alami, bukan menciptakan hujan dari langit cerah. Prosesnya melibatkan pengamatan kondisi atmosfer, pemilihan awan sasaran, penerbangan pesawat, hingga pemantauan hasil penyemaian. Berikut tahapan umumnya:
- Pemantauan atmosfer: radar cuaca, citra satelit, dan data atmosfer digunakan untuk menentukan awan sasaran yang berpotensi menghasilkan hujan.
- Penyemaian awan: pesawat menyemai bahan semai seperti natrium klorida (NaCl) ke dalam awan untuk memengaruhi proses pembentukan hujan.
- Pemantauan hasil: tim memantau perkembangan curah hujan setelah penyemaian dilakukan.
Hasil dari modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Keberadaan petir maupun guntur, misalnya, bukan indikator apakah hujan bersifat alami atau hasil rekayasa.
Dampak Positif di Kotawaringin Timur
Efek positif modifikasi cuaca juga dirasakan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Hujan dengan intensitas lebat yang mengguyur wilayah itu pada Rabu (28/10/2026) pagi dinilai membantu proses pemadaman karhutla yang sebelumnya melanda sejumlah kawasan.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Lyla Affifah, menyatakan bahwa hujan tersebut kemungkinan dipengaruhi kegiatan OMC yang masih berlangsung. “Intensitas hujan lebat pada hari ini cukup membantu dalam pemadaman karhutla, tetapi titik hotspot maupun titik api yang sebelumnya ada masih perlu dipantau,” ujar Lyla. Ia menegaskan, OMC tidak bertujuan menciptakan hujan atau membentuk awan baru, melainkan mengoptimalkan potensi curah hujan yang sudah ada.
Musim Hujan Masih Menunggu Desember
Meski hujan telah mengguyur sejumlah wilayah, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Timur, yakni 68 dari 74 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 90,6 persen, baru akan turun hujan pada Desember hingga Februari 2027. Artinya, hujan yang terjadi saat ini tidak serta-merta menandakan berakhirnya musim kemarau.
Dengan demikian, modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya mitigasi bencana yang strategis di tengah ancaman kekeringan dan karhutla. Operasi ini tidak hanya membantu memadamkan titik api, tetapi juga mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada ketersediaan awan dan kondisi atmosfer, sehingga pemantauan berkelanjutan oleh BMKG dan instansi terkait menjadi kunci.
Ke depan, sinergi antara pemerintah provinsi, BMKG, BRIN, dan BPBD diharapkan terus diperkuat agar modifikasi cuaca dapat dimanfaatkan secara optimal, baik untuk penanganan karhutla maupun pengisian kembali cadangan air di wilayah yang dilanda kekeringan. Masyarakat pun diimbau tetap mengikuti informasi resmi BMKG terkait perkembangan cuaca dan musim.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Sukardi
Sumber: iNewsMojokerto.id, Radar Bojonegoro Jawapos, Radar Sampit Jawapos, Metrotv, JPNN Jatim
