Boyacá Chicó Angkat Koper: Rela Lepas Tiga Poin demi Harga Diri, tapi Tetap Terdegradasi!
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Boyacá Chicó secara resmi mengakhiri perjuangan hukumnya di Tribunal Arbitral del Deporte (TAS) setelah memastikan diri terdegradasi dari Liga BetPlay ke Torneo BetPlay untuk musim 2027. Keputusan ini diumumkan melalui komunikasi resmi klub pada 28 Oktober 2026, sehari setelah hasil imbang 1-1 melawan Junior de Barranquilla di Stadion La Independencia, Tunja, memupus segala harapan matematis untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Kolombia. Langkah Boyacá Chicó ini menandai berakhirnya sengketa panjang dengan América de Cali terkait dugaan pelanggaran aturan eligibilitas pemain Yhormar Hurtado.
Klub yang dijuluki ‘El Ajedrezado’ ini sebelumnya menuntut tiga poin dari pertandingan melawan América de Cali yang berakhir dengan skor 7-0 untuk kemenangan tim tuan rumah. Tuntutan tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa América telah melanggar peraturan FIFA mengenai status dan transfer pemain, khususnya Pasal 5.4 yang membatasi partisipasi pemain untuk beberapa klub dalam satu musim. Yhormar Hurtado, bek yang menjadi pusat kontroversi, dianggap telah bermain untuk tiga klub berbeda sepanjang tahun 2026, yaitu Always Ready, Deportes Tolima, dan América de Cali. Komite disiplin Dimayor bahkan telah menyatakan pemain tersebut tidak eligible untuk berlaga bersama América selama sisa musim 2026.
Namun, perhitungan matematis berubah drastis setelah serangkaian hasil buruk yang dialami Boyacá Chicó dalam beberapa pekan terakhir. Dalam pernyataan resminya, manajemen klub menegaskan bahwa bahkan jika TAS mengabulkan gugatan mereka dan memberikan tiga poin tambahan, poin tersebut tidak akan cukup untuk menyelamatkan tim dari jerat degradasi. Pasalnya, sistem rata-rata (promedio) yang digunakan dalam tabel degradasi Liga BetPlay membuat perolehan poin tersebut tidak lagi relevan. Dengan hanya menyisakan tiga pertandingan (sembilan poin maksimal), rata-rata maksimum yang bisa dicapai Boyacá Chicó hanyalah 0,956, sementara Cúcuta Deportivo di posisi ke-18 memiliki rata-rata 1,0571 yang mustahil untuk dikejar.
“Sejak peristiwa itu terjadi, institusi kami memiliki keyakinan hukum absolut bahwa América de Cali telah melanggar aturan eligibilitas pemain. Kesimpulan ini didukung oleh ketentuan tegas dalam Peraturan Status dan Transfer Pemain FIFA, regulasi disipliner yang berlaku, dan yurisprudensi TAS,” demikian bunyi pernyataan resmi Boyacá Chicó. “Namun, hasil olahraga yang diperoleh selama beberapa pekan terakhir telah mengubah skenario ini secara substansial. Bahkan dengan keputusan menguntungkan dari TAS dan pengakuan tiga poin yang dituntut, penambahan poin tersebut ke tabel degradasi dan penerapan rata-rata regulasi tidak akan cukup secara matematis bagi Boyacá Chicó untuk mempertahankan kategori,” lanjut pernyataan tersebut.
Keputusan untuk mundur dari TAS juga dipengaruhi oleh fakta bahwa klub tidak ingin terjebak dalam perjuangan hukum yang sudah tidak memiliki dampak nyata. Sebelumnya, beberapa klub lain seperti Alianza, Internacional de Bogotá, Jaguares, dan Santa Fe juga sempat mengajukan gugatan serupa ke TAS terkait poin yang hilang melawan América de Cali. Namun, Boyacá Chicó memilih untuk menempuh jalur berbeda dengan mengakui kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Dengan hasil ini, Boyacá Chicó mencatatkan sejarah kelam sebagai klub yang mengalami degradasi untuk keempat kalinya, setelah sebelumnya terdegradasi pada 2016, 2018, dan 2021. Selama tiga tahun terakhir, performa tim memang jauh dari memuaskan. Mereka tidak pernah lolos ke cuadrangulares, hanya mengumpulkan poin minim, dan terpuruk di dasar tabel rata-rata dengan nilai 0,90. Kini, fokus klub beralih ke upaya membangun kembali tim untuk bersaing di Torneo BetPlay dan bertekad kembali ke Liga BetPlay pada 2028.
Dampak dari degradasi ini juga terasa bagi sepak bola regional. Kota Tunja dan departemen Boyacá untuk pertama kalinya sejak 2004 tidak akan memiliki wakil di Liga BetPlay, setelah sebelumnya Patriotas juga terdegradasi. Hal ini tentu menjadi pukulan berat bagi para penggemar sepak bola di wilayah tersebut.
Meski harus menerima kenyataan pahit, langkah Boyacá Chicó untuk mundur dari TAS patut diapresiasi sebagai bentuk sportivitas dan pengakuan atas realitas kompetisi. Klub memilih untuk tidak memperpanjang polemik yang sudah tidak relevan dengan nasib mereka di lapangan. Kini, tantangan sesungguhnya adalah membangun kembali kekuatan tim agar dapat segera kembali ke kasta tertinggi sepak bola Kolombia.
