Pakar Lahan Basah ke Polder Alabio, Bupati HSU Minta Hasil Konferensi Ditindaklanjuti
Kalimantan Update – 09 Oktober 2026 | Kunjungan lapangan para akademisi, peneliti, dan pakar internasional ke kawasan Polder Alabio menjadi sorotan utama di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Peristiwa yang dikenal sebagai momen Pakar Lahan Basah ke Polder Alabio Bupati HSU Minta Hasil Konferensi Ditindaklanjuti ini berlangsung pada Kamis siang, 8 Oktober 2026, setelah rangkaian Konferensi Internasional Intan-Handil 2026 di Banjarbaru usai digelar.
Rombongan yang terdiri dari para ahli dari Jepang, Belanda, Bangladesh, serta akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan sejumlah instansi terkait meninjau langsung kondisi nyata lahan basah di daerah tersebut. Mereka memadukan hasil kajian akademik dengan realitas di lapangan, khususnya di kawasan Polder Alabio yang selama ini menjadi tulang punggung pertanian lahan basah di HSU.
Disambut Langsung Bupati HSU
Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Bupati HSU, H Sahrujani, didampingi Wakil Bupati HSU Hero Setiawan, Sekretaris Daerah HSU Adi Lesmana, Ketua DPRD HSU, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, jajaran kepala SKPD, serta Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III. Sebelum menuju Desa Hambuku Pasar, rombongan lebih dulu singgah di SMAN 1 Sungai Pandan untuk melihat aktivitas pendidikan dan potensi lokal di sekitarnya.
Bupati Sahrujani menyambut baik kehadiran para pakar tersebut. Ia berharap kunjungan lapangan ini membuat hasil konferensi tidak hanya berhenti pada pembahasan di atas kertas, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Harapan itu sejalan dengan tema besar Pakar Lahan Basah ke Polder Alabio Bupati HSU Minta Hasil Konferensi Ditindaklanjuti yang menekankan pentingnya tindak lanjut nyata.
“Kami sangat bangga dan berterima kasih atas kehadiran para narasumber. Mudah-mudahan hasil seminar ini memberikan rekomendasi terbaik untuk Hulu Sungai Utara,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti setiap rekomendasi yang dihasilkan dari konferensi. Menurutnya, melihat langsung kondisi Polder Alabio hari ini menjadi langkah awal yang penting sebelum menyusun kebijakan pembangunan yang lebih terarah.
Harapan Tindak Lanjut Konferensi
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sahrujani kembali menekankan bahwa Pakar Lahan Basah ke Polder Alabio Bupati HSU Minta Hasil Konferensi Ditindaklanjuti bukan sekadar seruan retoris. Ia ingin agar setiap masukan dari para ahli dapat diterjemahkan menjadi program nyata, terutama dalam pengelolaan Polder Alabio dan pengembangan pertanian lahan basah yang lebih produktif serta berkelanjutan.
“Melihat langsung kondisi Polder Alabio hari ini. Apa yang menjadi rekomendasi hasil konferensi. Insyaallah akan kita tindaklanjuti untuk pembangunan di Kabupaten HSU,” tegas Bupati Sahrujani.
Selain membahas persoalan pertanian, kunjungan ini juga menjadi pintu untuk memperkenalkan potensi daerah lainnya. Bupati menyebut kerajinan, peternakan, dan komoditas unggulan seperti itik Alabio sebagai bagian dari kekayaan HSU yang perlu dikenal lebih luas.
“Ini tidak hanya soal pertanian, kita juga ingin memperkenalkan potensi HSU, mulai dari kerajinan hingga itik Alabio, agar semakin dikenal dan berkembang,” imbuhnya.
Bantuan Sumur Bor untuk Atasi Kemarau
Di tengah musim kemarau panjang yang melanda HSU, Bupati juga menyampaikan kabar gembira terkait rencana bantuan 55 unit sumur bor bagi masyarakat. Bantuan ini diharapkan mampu mengatasi dampak kekeringan sekaligus mendukung kebutuhan air pertanian, terutama bagi para petani yang selama ini bergantung pada pasokan air permukaan.
“Karena HSU sedang mengalami kemarau panjang, Insyaallah permohonan kita akan mendapatkan 55 unit sumur bor. Jika terealisasi, ini sangat besar manfaatnya, terutama bagi para petani,” ungkapnya seraya mengapresiasi perhatian BWS Kalimantan III terhadap kebutuhan daerah.
Rencana bantuan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini menghadapi tantangan cuaca ekstrem. Kehadiran sumur bor dinilai dapat memperkuat ketahanan air di kawasan pertanian lahan basah yang menjadi denyut nadi perekonomian HSU.
Meninjau Potensi Desa Lainnya
Setelah meninjau Polder Alabio, rombongan melanjutkan kunjungan ke Desa Banyu Hirang dan Desa Mamar untuk melihat berbagai potensi lokal. Masukan para pakar diharapkan menjadi dasar penyusunan pengelolaan Polder Alabio serta pengembangan pertanian lahan basah yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Keterlibatan para ahli dari berbagai negara menunjukkan bahwa persoalan lahan basah bukan hanya isu lokal, melainkan tantangan global yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Pengalaman Jepang, Belanda, dan Bangladesh dalam mengelola kawasan rawa dan polder diyakini dapat memperkaya pendekatan yang diterapkan di HSU.
Bupati menutup dengan menyampaikan apresiasi kepada Universitas Lambung Mangkurat, seluruh panitia, narasumber, dan pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
“Terima kasih telah berkunjung ke Hulu Sungai Utara. Inilah masyarakat HSU yang ramah dan terus berupaya bangkit dari semua sektor,” pungkasnya.
Kesimpulan
Kunjungan Pakar Lahan Basah ke Polder Alabio Bupati HSU Minta Hasil Konferensi Ditindaklanjuti menjadi momentum penting bagi Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk mentransformasi rekomendasi akademik menjadi kebijakan nyata. Dengan dukungan para ahli internasional, rencana bantuan sumur bor, serta komitmen pemerintah daerah, pengelolaan Polder Alabio dan pengembangan pertanian lahan basah diharapkan semakin produktif, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Kanal Kalimantan
