Distanak Kukar Pilih Pulihkan Sawah Terlantar 309 Hektare Masuk Verifikasi, Fokus Rehabilitasi Lahan Tidur
Kalimantan Update – 09 Oktober 2026 | Distanak Kukar Pilih Pulihkan Sawah Terlantar 309 Hektare Masuk Verifikasi menjadi langkah strategis Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, dalam mengoptimalkan lahan pertanian yang ada. Kepala Distanak Kukar, Moh. Rifani, mengungkapkan bahwa pihaknya memprioritaskan rehabilitasi lahan sawah yang ditinggalkan atau tidak lagi layak digunakan untuk kegiatan pertanian. Saat ini, sekitar 309 hektare lahan telah diverifikasi untuk program rehabilitasi sawah.
“Kalau kita sebenarnya lebih ke rehabilitasi lahan sawah. Sawah-sawah yang ditinggalkan itu kita perbaiki, karena kita memfasilitasi pembersihan lahan dan memperbaiki saluran supaya sudah bisa bersawah,” ujar Rifani di Tenggarong, Jumat (9/10/2026).
Rifani menjelaskan bahwa rehabilitasi sawah berbeda dengan program cetak sawah. Jika cetak sawah ditujukan untuk membuka lahan pertanian baru, rehabilitasi dilakukan terhadap lahan yang sebelumnya sudah menjadi sawah, tetapi ditinggalkan atau tidak lagi produktif. Melalui rehabilitasi, pemerintah berupaya mengembalikan fungsi lahan agar dapat kembali digunakan oleh petani. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Distanak Kukar Pilih Pulihkan Sawah Terlantar 309 Hektare Masuk Verifikasi juga menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam mendukung ketahanan pangan. Rifani menyebutkan bahwa Distanak Kukar telah melakukan verifikasi terhadap sekitar 309 hektare lahan yang diusulkan untuk rehabilitasi. Namun, angka tersebut belum menjadi luas akhir yang dipastikan akan ditangani karena masih ada proses pemeriksaan lanjutan oleh konsultan.
“Dalam proses tersebut, kondisi fisik lahan menjadi salah satu pertimbangan utama. Pemeriksaan mencakup kondisi vegetasi, tingkat kesulitan pembersihan, serta karakteristik lahan yang akan direhabilitasi,” jelasnya.
Terlebih, lanjut Rifani, lahan yang ditumbuhi semak belukar, misalnya, membutuhkan penanganan berbeda dibandingkan lahan yang sudah ditumbuhi tanaman berkayu. Perbedaan kondisi tersebut akan memengaruhi kebutuhan pekerjaan dan besaran anggaran yang diperlukan.
“Luasnya bisa berkurang lagi. Nanti mereka melihat apakah lahannya bisa ditangani, apakah terlalu dalam, atau bagaimana vegetasinya. Kalau sudah ada tanaman berkayu, tentu penanganannya perlu diperhitungkan,” sebutnya.
Hasil pemeriksaan konsultan nantinya menjadi dasar untuk menyusun rencana anggaran biaya (RAB) dan menentukan bentuk penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing lahan. Rifani menegaskan bahwa tujuan rehabilitasi bukan sekadar membersihkan lahan, melainkan mengembalikan kemampuan lahan untuk mendukung kegiatan pertanian masyarakat. Perbaikan saluran menjadi bagian penting agar lahan yang ditangani dapat kembali digunakan untuk bersawah.
Ia berharap, setelah proses rehabilitasi selesai, masyarakat dapat memanfaatkan kembali lahan tersebut untuk kegiatan produksi pertanian. Adapun pelaksanaan program ini direncanakan mendapat dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat. Kepastian luasan yang akan direhabilitasi dan kebutuhan anggarannya masih menunggu hasil kajian teknis konsultan.
“Kami berupaya memastikan lahan yang ditangani benar-benar memungkinkan untuk dipulihkan dan kembali dimanfaatkan oleh petani,” tuturnya.
Program rehabilitasi sawah ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah lahan terlantar di Kutai Kartanegara. Dengan mengembalikan fungsi lahan, diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan daerah dan kesejahteraan petani. Distanak Kukar Pilih Pulihkan Sawah Terlantar 309 Hektare Masuk Verifikasi juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mencapai swasembada pangan nasional.
Selain itu, rehabilitasi lahan sawah ini juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan, karena lahan yang tidak terkelola dapat menjadi sumber masalah seperti erosi dan degradasi tanah. Dengan pemulihan, lahan dapat kembali produktif dan berkelanjutan.
Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam hal pembiayaan dan koordinasi dengan berbagai pihak. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pusat, dan masyarakat untuk memastikan program ini berjalan lancar. Distanak Kukar terus berupaya melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada petani agar mereka dapat memanfaatkan lahan yang telah direhabilitasi dengan optimal.
Ke depan, Distanak Kukar berencana untuk melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap lahan yang telah direhabilitasi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa lahan tersebut benar-benar digunakan dan memberikan hasil yang diharapkan. Dengan demikian, program rehabilitasi sawah tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, tetapi juga investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan daerah.
Sebagai informasi, program rehabilitasi sawah ini juga melibatkan partisipasi aktif dari kelompok tani setempat. Mereka dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lahan yang telah direhabilitasi.
Distanak Kukar Pilih Pulihkan Sawah Terlantar 309 Hektare Masuk Verifikasi menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah serius dalam mengelola sumber daya pertanian. Dengan pendekatan yang tepat, lahan-lahan terlantar dapat kembali menjadi sawah produktif yang mendukung kesejahteraan petani dan masyarakat luas.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kerjasama semua pihak. Pemerintah, petani, dan masyarakat diharapkan dapat bersinergi untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan di Kutai Kartanegara.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
