Mahfud MD Kembali Soroti Kontroversi Gibran: Dari Gestur Debat hingga Dugaan Manipulasi Aturan
Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Mahfud MD kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pernyataannya terkait kontroversi Gibran Rakabuming Raka mencuat ke permukaan. Mantan Menko Polhukam ini mengkritisi berbagai hal, mulai dari gestur debat cawapres 2024 hingga dugaan keterlibatan tiga menteri dalam merekayasa aturan pencalonan Gibran. Kritik pedas Mahfud MD ini memantik diskursus nasional tentang etika berpolitik dan integritas penyelenggaraan negara.
Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, menyoroti kembali viralnya video potongan debat cawapres Pilpres 2024 yang memperlihatkan gestur Gibran yang dinilai merendahkan Mahfud MD. Dalam debat yang berlangsung di Jakarta Convention Center pada 21 Januari 2024, Gibran menanyakan tentang cara mengatasi greenflation kepada Mahfud MD. Ketika Mahfud MD menjawab dengan memaparkan konsep ekonomi hijau dan ekonomi sirkular, Gibran merespons dengan gestur menunduk, meletakkan tangan di atas mata, dan menengok ke kanan-kiri seolah mencari barang hilang. “Saya lagi nyari jawabannya Prof Mahfud, saya nyari-nyari di mana ini jawabannya, kok nggak ketemu jawabannya. Saya tanya masalah inflasi hijau kok malah menjelaskan ekonomi hijau?” sindir Gibran saat itu. Guntur Romli menilai gestur tersebut sebagai bentuk kesombongan yang kini berbalik menjadi karma. “Gibran clingak-clinguk, membungkuk, seperti mencari sesuatu yang hilang, gesture songong. Bukan argumen yang dibalas, tapi gestur yang culas. Bukan adu gagasan, tapi gimik hinaan,” kritik Guntur. Ia menambahkan bahwa apa yang dialami Gibran saat ini adalah konsekuensi logis dari tindakannya. “Tapi karma tidak akan ke mana-mana. Jejak-jejak kecurangan dan kebohongannya terus terbongkar. Gibran menjadi aib nasional,” tegasnya.
Tidak hanya soal gestur, Mahfud MD juga mengungkap dugaan keterlibatan tiga menteri dalam merekayasa aturan pencalonan Gibran. Dalam podcast Terus Terang bersama Rizal Mustary, Mahfud MD mengutip informasi dari podcast Bambang Widjojanto yang menghadirkan seorang mystery guest, mantan pejabat tinggi yang mengaku menyaksikan adanya arahan dari tiga menteri untuk mengondisikan kemenangan Gibran. “Ada sebuah podcast menarik dari Bambang Widjojanto yang mengundang mystery guest, mantan pejabat tinggi yang tahu dan menyaksikan bahwa ada tiga menteri yang memerintahkan kondisikan kemenangan Gibran,” ungkap Mahfud MD. Titik krusial dugaan manipulasi berada pada Pasal 18 Ayat 3 PKPU Nomor 19 Tahun 2023 yang mengatur persyaratan penyetaraan ijazah luar negeri. Perubahan mendadak pada norma tersebut disinyalir untuk meloloskan berkas administrasi Gibran. “Jangan terhalang karena ijazah, maka dibuat pasal itu,” ujar Mahfud MD menirukan substansi perintah yang dimaksud. Mahfud MD menilai dugaan intervensi ini perlu ditelusuri hingga ranah pidana karena berkaitan dengan integritas penyelenggaraan negara.
Dalam kesempatan lain, Mahfud MD juga menanggapi polemik politik yang membelit Gibran. Ia menilai opsi mundur secara sukarela dari jabatan Wakil Presiden merupakan langkah yang lebih terhormat dibandingkan melalui proses pemakzulan. Menurut Mahfud MD, pemakzulan membutuhkan pembuktian hukum yang rumit dan dukungan politik yang solid di DPR. “Atau Mas Gibran dengan segala kebesaran hati, menyatakan, udahlah saya mundur, lalu persiapan diri lagi untuk running di tahun 2029, saya kira lebih terhormat,” kata Mahfud MD dalam kanal YouTube pribadinya. Ia memetakan bahwa mundur secara mandiri memberi ruang bagi Gibran untuk mematangkan konsolidasi politik menuju Pemilu 2029. Sikap diam Presiden Prabowo Subianto dinilai turut memindahkan fokus kritik publik dari jalannya pemerintahan.
Rangkaian pernyataan Mahfud MD ini menegaskan posisinya sebagai tokoh yang vokal mengkritisi dinamika politik nasional. Dari gestur debat yang viral hingga dugaan manipulasi aturan, Mahfud MD konsisten menyoroti pentingnya etika dan kepastian hukum dalam bernegara. Ia menekankan bahwa peradaban bernegara dapat rusak jika aturan diutak-atik demi kepentingan sesaat. Publik pun menanti kelanjutan dari isu-isu ini, terutama terkait dugaan keterlibatan tiga menteri yang disebut Mahfud MD.
