Fabio Di Giannantonio Ungkap 'Lubang' di Ban Depan: Saya Beruntung Bisa Finis di MotoGP Indonesia
Kalimantan Update – 16 Oktober 2026 | Pembalap Tim Pertamina Enduro VR46 Racing, Fabio Di Giannantonio, menjadi sorotan setelah mengungkapkan masalah teknis serius yang hampir membuatnya gagal finis di Grand Prix Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika. Dalam balapan yang berlangsung dramatis, Fabio Di Giannantonio harus puas finis di posisi keenam meski sempat menunjukkan kecepatan kompetitif. Ia mengungkapkan bahwa ada ‘lubang’ atau kerusakan tidak normal pada sisi kanan ban depan motornya, yang membuat motor sulit dikendalikan dan nyaris menyebabkan kecelakaan.
“Bagian depan yang rusak adalah sisi kanan. Saya melakukan start yang baik, tetapi kami memilih modifikasi kecil untuk balapan, jadi saya tidak bisa tampil 100 persen di tiga lap pertama. Setelah itu saya menemukan ritme dan melihat saya bisa mengikuti Marc dan Pedro dengan cukup mudah. Namun ketika saya mulai mendorong, begitu mendekati tikungan 10, saya mengalami lock yang luar biasa, motor mulai melompat dan situasinya menjadi kritis. Kami beruntung bisa tetap berdiri, kami bisa saja tidak menyelesaikan balapan,” ujar Fabio Di Giannantonio menirukan keterangan resminya.
Masalah yang dialami Fabio Di Giannantonio bukanlah hal sepele. Ia menjelaskan bahwa kondisi ban depan yang tidak normal membuatnya tidak bisa menikung dengan normal. “Anda tidak bisa menikung, Anda menggunakan lutut untuk tidak jatuh, semua tikungan understeer, getaran membuat lengan sakit, getarannya beramplitudo tinggi dan frekuensi tinggi. Dengan modifikasi ini saya tetap merasa baik, saya sangat senang dengan jalannya balapan, saya menyesal karena sebenarnya bisa lebih baik,” tambahnya.
Balapan di Mandalika sendiri berjalan sangat kompetitif. Marco Bezzecchi dari Aprilia berhasil memenangi balapan setelah menyalip Raul Fernandez pada lap 19 dari 27 lap. Kemenangan ini menjadi bagian dari sejarah karena Aprilia berhasil menguasai empat posisi teratas dalam satu balapan MotoGP untuk pertama kalinya. Fernandez harus puas finis kedua meski membalap dengan dua jari patah, sementara Jorge Martin finis ketiga dan merebut kembali pimpinan klasemen dunia dari Marc Marquez dengan keunggulan dua poin. Martin mengumpulkan 355 poin, unggul atas Marquez yang memiliki 353 poin, sementara Bezzecchi di posisi ketiga dengan 309 poin.
Bagi Fabio Di Giannantonio, hasil di Mandalika menambah catatan inkonsistensi musim ini. Meski demikian, ia tetap optimistis dengan pengembangan motor Ducati. “Saya tidak merasa menderita di depan, saya baik-baik saja dengan semuanya. Komentar dari box semuanya serempak menyoroti keanehan kondisi ban. Ini masalah yang tidak biasa,” jelas Fabio Di Giannantonio.
Insiden di Mandalika juga tidak lepas dari kontroversi yang melibatkan para pembalap MotoGP. Sebelumnya, Marc Marquez menolak mengikuti balapan karting promosi di Jepang karena masalah bahu, dan Fabio Di Giannantonio juga tidak hadir karena cedera akibat ditabrak Alex Marquez di sprint race Motegi. Akibatnya, penyelenggara MotoGP dikabarkan akan menjatuhkan denda sebesar 5.000 Euro kepada pembalap yang berulang kali absen dari acara promosi, termasuk sesi ‘Hero Walk’ yang berlangsung 20 menit sebelum balapan. Kebijakan ini menuai protes keras dari para pembalap yang menilai denda tersebut tidak masuk akal.
Meski demikian, fokus Fabio Di Giannantonio tetap pada performa di lintasan. Ia menyadari bahwa konsistensi menjadi kunci untuk mengamankan posisi di klasemen akhir. Dengan sisa lima balapan, persaingan gelar juara dunia masih sangat terbuka antara Martin dan Marquez, sementara Bezzecchi terus menempel ketat. Di Giannantonio sendiri saat ini berada di peringkat keenam klasemen sementara, dan bertekad untuk bangkit di seri-seri berikutnya.
Masalah ban yang dialami Fabio Di Giannantonio menjadi pelajaran berharga bagi tim VR46. Mereka akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum balapan berikutnya. “Kami harus menganalisis data dan memahami apa yang menyebabkan kerusakan pada ban depan. Ini bukan hal yang bisa diabaikan karena menyangkut keselamatan pembalap,” pungkasnya. Dengan sisa musim yang ketat, setiap poin sangat berarti bagi Fabio Di Giannantonio dan timnya untuk mengakhiri musim dengan hasil terbaik.
Kejadian di Mandalika menegaskan bahwa MotoGP bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga manajemen risiko dan ketahanan mental. Fabio Di Giannantonio menunjukkan sikap profesional dengan tetap menyelesaikan balapan meski dalam kondisi sulit. Para penggemar tentu berharap masalah teknis serupa tidak terulang, dan pembalap asal Roma itu dapat kembali bersaing di barisan depan pada balapan berikutnya.
