Tragedi Laiba Ijaz: Mahasiswa Cerdas Tewas Setelah Ditipu Agen Palsu, Mimpi Harvard Berakhir Pilu
Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan Pakistan. Laiba Ijaz, seorang mahasiswa berprestasi yang baru saja meraih medali emas dalam bidang fisika dari International Islamic University Islamabad, ditemukan tewas pada 9 Oktober 2026. Perempuan muda itu mengakhiri hidupnya setelah mengetahui bahwa agen perjalanan yang menjanjikan mimpi studinya ke Amerika Serikat ternyata seorang penipu. Kisah pilu Laiba Ijaz menyita perhatian publik dan memicu kemarahan atas maraknya praktik penipuan agen pendidikan di Pakistan.
Laiba Ijaz dikenal sebagai mahasiswa cemerlang. Ia menempuh pendidikan sarjana fisika di International Islamic University Islamabad dari tahun 2019 hingga 2023 dan lulus dengan predikat medali emas. Selama dua tahun terakhir, ia gencar mencari peluang untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Namun, jalan menuju impian itu justru berujung malapetaka ketika ia bertemu dengan seorang agen yang mengaku dapat membantunya mendapatkan beasiswa dan visa.
Ayah Laiba, Muhammad Ijaz, yang sehari-hari berjualan susu di Islamabad, mengaku telah membayar lebih dari lima juta rupee kepada agen tersebut. Uang itu merupakan seluruh tabungan keluarga ditambah hasil penjualan sebidang tanah. Bahkan, menurut laporan, ibu Laiba juga menggadaikan perhiasannya demi membiayai pendidikan anaknya. Total kerugian keluarga diperkirakan mencapai 9,3 juta rupee, sesuai dengan isi laporan polisi. Agen tersebut menjanjikan surat penerimaan dari Harvard University, namun dokumen yang ditunjukkan kepada Laiba ternyata palsu.
Kepolisian Islamabad telah menangkap tersangka utama berinisial Muhammad Nauman dan menetapkannya dalam tahanan polisi selama lima hari. Seorang tersangka lain, Fatima Sarwar, juga terlibat dalam kasus ini. Sementara itu, seorang ko-tersangka berinisial Nihar Muhammad telah mengajukan pembelaan dan mendapatkan bail sementara hingga 20 Oktober dari Pengadilan Sesi Islamabad. Kuasa hukumnya menyatakan kliennya tidak bersalah dan dijebak dalam kasus ini. Kasus ini terdaftar di Polisi Ramna dengan pasal 322 (pembunuhan tidak sengaja) dan 34 KUHP Pakistan, sementara Badan Investigasi Federal (FIA) mendaftarkan kasus terpisah terkait penipuan, abetmen, dan pelanggaran imigrasi.
FIA mengungkap bahwa tersangka utama diduga telah memperoleh jutaan rupee dari keluarga Laiba dengan bantuan seorang kaki tangan perempuan, serta menyamar sebagai pihak yang memiliki koneksi untuk mendapatkan pekerjaan bagi saudara Laiba dan mengurus admisi ke Harvard. Dokumen perjalanan yang diberikan kepada Laiba juga palsu. Perdana Menteri Shehbaz Sharif turut mengambil langkah cepat dengan menginstruksikan Kepala Kepolisian Islamabad dan Komisaris Tinggi untuk menindak tegas para pelaku. Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi juga berjanji akan menangani kasus ini secara pribadi.
Tragedi yang menimpa Laiba Ijaz bukanlah kasus pertama. Data FIA menunjukkan bahwa dalam empat bulan terakhir, lembaga tersebut telah menyita 615,55 juta rupee dari agen visa ilegal di Islamabad dan Rawalpindi, menangkap 190 tersangka, dan mendaftarkan 1.543 kasus. Angka ini setara dengan hampir 13 kasus per hari di dua kota saja. Hal ini mencerminkan bisnis gelap yang memanfaatkan keputusasaan warga Pakistan yang ingin mencari peluang di luar negeri. Tingkat pengangguran pemuda Pakistan mencapai 12,8 persen, sementara 762.499 pekerja terdaftar untuk bekerja di luar negeri tahun lalu.
Para pengamat menilai bahwa lemahnya regulasi terhadap konsultan pendidikan swasta menjadi celah bagi praktik penipuan. Berbeda dengan agen tenaga kerja resmi yang dapat diverifikasi melalui catatan resmi, kredensial konsultan pendidikan seringkali sulit dipastikan. Universitas luar negeri dan kedutaan besar memiliki kewenangan penuh dalam menentukan admisi dan visa, sehingga tidak ada perantara yang bisa menjaminnya. Pemerintah didesak untuk memperketat pengawasan dan memberikan panduan kredibel bagi calon mahasiswa.
Kematian Laiba Ijaz meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya dan menjadi pengingat keras akan pentingnya perlindungan bagi generasi muda yang bermimpi menimba ilmu di luar negeri. Kasus ini juga menuntut penegakan hukum yang tuntas, bukan sekadar penangkapan, tetapi juga vonis dan pengembalian uang korban. Hingga berita ini diturunkan, proses hukum masih berlanjut dan publik menanti keadilan bagi Laiba Ijaz.
