Lestari Moerdijat Pulihkan Ukiran Jepara di Masjid Sarajevo, Bukti Diplomasi Budaya Indonesia
Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | Upaya Lestari Moerdijat Pulihkan Ukiran Jepara di Masjid Sarajevo menjadi sorotan internasional setelah Wakil Ketua MPR RI itu menginisiasi restorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina. Langkah tersebut tidak sekadar memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia yang memperkenalkan kekayaan seni tradisional Nusantara ke panggung dunia.
Restorasi ini melibatkan tiga pengukir asal Jepara, yaitu Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo. Mereka diterbangkan langsung untuk menangani sejumlah bagian interior masjid yang mengalami kerusakan dan memerlukan keahlian khusus di bidang ukiran kayu. Kehadiran para pengrajin tersebut diharapkan dapat menjaga keaslian warisan budaya Indonesia yang telah lama berada di masjid itu.
Lestari Moerdijat Pulihkan Ukiran Jepara di Masjid Sarajevo bukan hanya soal perbaikan fisik, melainkan juga bentuk pelestarian warisan seni ukir Indonesia yang telah menjadi bagian dari identitas budaya bangsa. Melalui program ini, keterampilan pengrajin tradisional Jepara diperkenalkan kepada masyarakat internasional, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan memiliki kepedulian terhadap peninggalan sejarah.
Diplomasi budaya yang dijalankan Lestari Moerdijat Pulihkan Ukiran Jepara di Masjid Sarajevo ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Restorasi tersebut menjadi bukti bahwa seni ukir Jepara mampu berbicara di kancah global dan menjadi jembatan persahabatan antara Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina. Selain itu, keterlibatan pengrajin lokal menunjukkan bahwa keahlian tradisional masih relevan dan memiliki nilai tinggi di mata dunia.
Proses restorasi yang dilakukan oleh tiga pengukir tersebut tidak hanya memerlukan keterampilan teknis, tetapi juga kesabaran dan ketelitian tinggi. Setiap detail ukiran harus disesuaikan dengan motif asli yang telah ada puluhan tahun lalu. Hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat kondisi kayu jati yang sudah mengalami pelapukan di beberapa bagian.
Keberhasilan Lestari Moerdijat Pulihkan Ukiran Jepara di Masjid Sarajevo diharapkan dapat menjadi contoh bagi upaya pelestarian budaya Indonesia di luar negeri. Program semacam ini perlu terus didorong agar warisan seni tradisional tidak tergerus oleh zaman dan tetap dikenal oleh generasi mendatang. Selain itu, kolaborasi antarnegara dalam bidang budaya dapat mempererat hubungan bilateral yang selama ini telah terjalin dengan baik.
Sebagai penutup, restorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di Sarajevo yang diinisiasi oleh Lestari Moerdijat merupakan langkah nyata dalam menjaga warisan budaya Indonesia sekaligus memperkuat diplomasi budaya. Partisipasi pengukir Jepara tidak hanya memulihkan keindahan masjid, tetapi juga mengangkat nama Indonesia di mata dunia. Upaya ini patut diapresiasi dan menjadi inspirasi bagi pelestarian budaya lainnya di masa depan.
