Gianni Infantino di Pusaran Skandal: Kampanye ke Jepang demi Suara Asia Usai Kontroversi Rp67 Triliun
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menjadi sorotan dunia setelah ia mempercepat kampanye pemilihan ulang dengan bertemu para pemimpin sepak bola Asia di Tokyo, Jepang, pekan ini. Langkah tersebut diambil di tengah badai kritik terkait pembatalan rencana penjualan hak komersial Piala Dunia senilai 4,2 miliar dolar AS (sekitar Rp67 triliun) yang sempat menggemparkan federasi-federasi anggota.
Pertemuan dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dijadwalkan berlangsung di sebuah hotel bintang lima di Tokyo, Rabu mendatang, dengan akses media yang sangat dibatasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Gianni Infantino untuk mengamankan dukungan dari 211 federasi anggota FIFA menjelang pemilihan pada Maret 2026. Sebelumnya, ia telah menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan FIFA yang beranggotakan 37 orang di Zurich, Swiss, atas “kesalahan” dalam menyusun rencana investasi yang kini telah dibatalkan.
Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, Presiden AFC, awalnya menunjukkan penolakan terhadap Infantino dan rencana pembentukan anak perusahaan untuk mengelola Piala Dunia. Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa sikapnya mulai melunak. Dukungan dari Asia bisa menjadi penentu karena suara dari kawasan ini sangat diperhitungkan dalam pemilihan nanti. Meski demikian, AFC sempat bergabung dalam kritik terhadap Infantino, dan hingga kini anggotanya masih terbelah. Qatar, tuan rumah Piala Dunia 2022, menyatakan dukungan, sementara Yordania secara terbuka menolak.
Berdasarkan penghitungan Associated Press, Gianni Infantino telah mengantongi dukungan dari 87 dari 211 federasi anggota, baik melalui pernyataan individu maupun dukungan kolektif dari konfederasi regional. Blok oposisi terbesar justru datang dari Eropa. UEFA, sebagai konfederasi paling vokal, terus meningkatkan tekanan dengan mengirimkan 42 pertanyaan rinci kepada FIFA dan menetapkan tenggat waktu 2 November untuk mendapatkan jawaban.
UEFA menuntut transparansi terkait sejumlah isu sensitif, termasuk paket remunerasi pribadi Infantino, pembayaran finansial kepada penyanyi Marc Anthony, penanganan kasus disiplin penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun, hubungan bisnis dan politik dengan Donald Trump dan keluarganya, serta independensi operasional komite yudisial, pemilihan, dan etika FIFA. UEFA bahkan telah meminta pengadilan federal AS untuk mengeluarkan surat panggilan guna memaksa produksi dokumen dan kesaksian terkait rencana investasi yang disebut FIFA Forward Enterprise itu.
Dalam surat yang ditandatangani Sekretaris Jenderal UEFA Theodore Theodoridis, pihaknya menyatakan bahwa permintaan maaf dan penjelasan Infantino belum menjawab kekhawatiran utama. Mereka juga mempertanyakan mengapa Dewan FIFA dikeluarkan dari proses pengambilan keputusan. Sementara itu, pengacara FIFA menuduh UEFA melakukan pelecehan terhadap Gianni Infantino. Ketegangan antara kedua badan sepak bola dunia ini pun semakin memanas menjelang pemilihan presiden FIFA yang akan digelar pada 18 Maret 2026.
Di sisi lain, Dewan FIFA dijadwalkan bertemu kembali pada 16 Desember di Doha, Qatar. Pertemuan tersebut diperkirakan akan menjadi ajang konfrontasi lanjutan antara kubu Infantino dan para pengkritiknya, terutama dari Eropa. Meskipun demikian, posisi Gianni Infantino masih cukup kuat berkat dukungan dari sejumlah federasi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Dengan dinamika politik yang kian memanas, masa depan kepemimpinan FIFA berada di ujung tanduk. Apakah Gianni Infantino mampu mempertahankan kursinya untuk periode keempat, atau justru tumbang oleh gelombang protes yang dipimpin Eropa? Yang jelas, perjalanan kampanyenya ke Jepang menjadi sinyal bahwa ia tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Publik dunia pun menanti jawaban atas berbagai pertanyaan yang belum terjawab hingga kini.
