Paul Scholes Buka Suara: Bela Jason Wilcox, Soroti Nasib Carrick, hingga Pujian Abadi Zidane
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Nama Paul Scholes kembali mencuri perhatian publik sepak bola Inggris. Legenda Manchester United itu belakangan ini tampil sebagai komentator paling vokal, menyoroti berbagai persoalan yang melilit klub yang membesarkan namanya. Mulai dari membela Direktur Teknik Jason Wilcox yang diterpa kritik, mengomentari tekanan berat yang dihadapi manajer Michael Carrick, hingga menerima pujian abadi dari sosok sekelas Zinedine Zidane, Paul Scholes seolah menjadi cermin bagi kompleksnya situasi di Old Trafford saat ini.
Pemicu utama perbincangan adalah kritik terbuka bek tengah Lisandro Martinez terhadap kebijakan transfer klub. Martinez menilai manajemen, khususnya Direktur Teknik Jason Wilcox, gagal mendatangkan pemain berkualitas yang dibutuhkan tim. Pernyataan itu sontak menyeret nama Wilcox ke pusat sorotan dan memicu perdebatan di kalangan pengamat maupun pendukung Setan Merah.
Menariknya, Paul Scholes justru memilih membela Wilcox. Dalam siniar The Good, The Bad and The Football, ia mengaku memiliki simpati terhadap posisi yang dijalani sang direktur teknik. Menurutnya, Wilcox datang ke klub bukan untuk mengemban peran tersebut, melainkan lebih sebagai figur teknis. Scholes menyinggung pula kisah Dan Ashworth yang disebutnya berani berbeda pendapat dengan pemilik klub, Sir Jim Ratcliffe, sebelum akhirnya hengkang.
“Jason harus membawa Man United kembali ke tempat yang mereka inginkan tanpa memiliki uang untuk melakukannya,” ujar Paul Scholes, menggambarkan betapa sulitnya pekerjaan tersebut. Ia menilai pekerjaan sebagai direktur teknik di Manchester United saat ini merupakan salah satu yang tersulit di dunia sepak bola, terutama karena keterbatasan dana untuk mendatangkan pemain kelas atas.
Pandangan itu diperkuat oleh data pengeluaran klub pada jendela transfer musim panas. Total belanja bruto Manchester United dilaporkan berada di bawah Manchester City, Chelsea, Liverpool, Arsenal, bahkan Tottenham Hotspur. Kondisi ini, menurut Paul Scholes, membuat staf rekrutmen kesulitan membujuk pemain papan atas untuk bergabung ke Old Trafford.
Tekanan pada Michael Carrick dan Siklus Pemecatan
Selain soal transfer, Paul Scholes juga menyoroti nasib Michael Carrick, mantan rekan setimnya yang kini menukangi Manchester United. Setelah mendapat kontrak permanen berkat performa menjanjikan sebagai pelatih interim, Carrick kini menghadapi tekanan luar biasa. United terpuruk di peringkat ke-13 klasemen sementara Premier League dengan hanya satu kemenangan dari enam pertandingan.
Scholes bahkan melontarkan dugaan mengejutkan bahwa tekanan tersebut mungkin membuat Carrick mulai berpikir untuk pergi. “Ada bagian dari diri saya yang berpikir, mungkinkah ada bagian dari dirinya yang berkata, keluarkan saya dari sini,” tuturnya, sembari tetap menilai Carrick sebagai pribadi yang baik.
Ia juga mengkritik keras siklus pergantian pelatih yang terus berulang di klub. Menurut Paul Scholes, manajemen seharusnya berhenti terus memecat pelatih dan mulai mengevaluasi pihak-pihak di atas, termasuk mereka yang bertanggung jawab membeli pemain dan menunjuk manajer. Ia menyebut situasi serupa telah terjadi selama tiga tahun terakhir tanpa solusi yang jelas.
Pujian Zidane yang Tak Pernah Pudar
Di tengah sorotan kritis tersebut, nama Paul Scholes kembali diangkat dalam konteks yang lebih agung. Legenda Prancis, Zinedine Zidane, pernah menyebutnya sebagai gelandang terbaik di generasinya. Dalam wawancara yang dikutip The Guardian pada 2009, Zidane bahkan menobatkan Scholes sebagai lawan terberat yang pernah ia hadapi.
“Lawan terberat saya? Scholes dari Manchester. Dia adalah gelandang yang komplet. Scholes tidak diragukan lagi merupakan gelandang terbaik di generasinya,” ujar Zidane, pujian yang terus dikenang hingga kini. Pengakuan dari salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa itu menjadi bukti betapa besar pengaruh Paul Scholes di lapangan hijau.
Dari membela seorang direktur teknik yang tertekan, mengomentari masa depan pelatih yang diterpa badai hasil buruk, hingga menerima penghormatan dari legenda dunia, sosok Paul Scholes tetap menjadi suara yang diperhitungkan. Figur yang dulu dikenal pendiam di lapangan kini tampil blak-blakan di luar lapangan, mengingatkan publik bahwa Manchester United sedang berada di persimpangan yang membutuhkan pembenahan menyeluruh, bukan sekadar pergantian nama di kursi pelatih.
