Street Fighter Movie 2026: Puncaki Box Office tapi Dicaci Kritikus, Masa Depan Waralaba Dipertaruhkan
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Kehadiran street fighter movie versi live-action terbaru memang menjadi salah satu momen paling dinanti para penggemar game legendaris Capcom. Film yang disutradarai Kitao Sakurai ini langsung mencuri perhatian publik sejak trailer perdananya dirilis, menjanjikan adaptasi yang jauh lebih setia pada lore permainan dibandingkan versi 1994. Namun, di balik gemerlapnya, street fighter movie kini berada di persimpangan jalan yang menentukan: antara menjadi waralaba sinematik yang sukses atau sekadar catatan kaki dalam sejarah adaptasi video game.
Pada akhir pekan pembukaannya, film ini berhasil menduduki puncak tangga box office domestik dengan pendapatan 31 juta dolar AS. Tambahan 20,1 juta dolar AS dari pasar internasional membuat total pendapatan globalnya menyentuh 50,1 juta dolar AS. Angka tersebut memang terlihat menggembirakan dari sisi optik, terlebih karena berhasil mengalahkan pesaing seperti “You Can See Everything” yang hanya meraup 15 juta dolar AS. Sayangnya, dengan anggaran produksi yang dilaporkan mencapai 82 juta dolar AS, capaian tersebut belum bisa dibilang aman.
Para pengamat industri memperkirakan bahwa street fighter movie perlu menghasilkan sekitar 205 juta dolar AS secara global agar bisa dianggap sukses secara teatrikal. Dengan pembukaan 51 juta dolar AS, peluang itu masih terbuka, tetapi sangat bergantung pada kekuatan word of mouth dan kemampuan film bertahan lama di bioskop. Masalahnya, respons yang beredar justru cenderung beragam dan tidak sepenuhnya positif.
Respons Kritikus yang Terbelah
Di platform Rotten Tomatoes, street fighter movie mencatatkan rating persetujuan kritikus yang sempat berada di angka 41 persen sebelum naik tipis ke 45 persen. Sementara itu, penilaian audiens berada di angka 79 persen, dan CinemaScore memberikan nilai B-. Salah satu ulasan paling tajam datang dari GamesRadar+ yang menyebut film ini sebagai “sebuah kekacauan yang penuh sesak: film yang diedit super cepat, dipenuhi lelucon cabul, dan tidak konsisten secara tone, yang berakhir di tengah ceritanya sendiri.”
Kritikus Bill Bria dari /Film juga memberikan penilaian campuran, menyebutnya sebagai “pertarungan seni bela diri yang penuh warna dengan sisa rasa yang tidak enak.” Uniknya, kritik pedas juga datang dari Uwe Boll, sutradara yang dikenal lewat adaptasi video game bermasalah seperti House of the Dead dan Alone in the Dark. Melalui akun X miliknya, Boll membagikan ulasan negatif film ini dengan komentar sinis: “Jangan pernah mencaci film-film saya lagi.” Sindiran itu seolah menjadi bukti bahwa Hollywood belum benar-benar belajar cara mengadaptasi game dengan baik.
Kesetiaan pada Lore dengan Harga Mahal
Meski menuai kritik, street fighter movie ternyata berhasil memperbaiki sejumlah kesalahan yang dibuat adaptasi 1994. Kali ini, Ryu diperankan oleh Andrew Koji, aktor berdarah Inggris-Jepang yang juga seorang martial artist, sementara Ken Masters diperankan Noah Centineo. Berbeda dari versi lama yang mengubah Ryu menjadi penipu Amerika, film baru ini membangun hubungan persaudaraan antara Ryu dan Ken secara lebih serius.
Konflik utama berpusat pada Ryu yang menggunakan energi gelap untuk memenangkan World Warrior Tournament 1987, yang berujung pada kematian mentor mereka dan merenggangkan hubungan keduanya. Namun, fokus yang terlalu besar pada duo Ryu-Ken justru mengorbankan karakter lain. Chun-Li, yang diperankan Callina Liang dan dipromosikan besar-besaran dalam materi pemasaran, ternyata mendapat porsi layar yang minim dengan latar belakang yang nyaris tidak dijelaskan. Karakter ikonik seperti Zangief dan E. Honda bahkan hanya muncul sekilas, nyaris sekadar cameo.
Dalam dua jam durasi, memang mustahil mengembangkan roster enam belas petarung secara merata. Hal ini justru mengulang kesalahan terbesar film 1994, meski dengan pendekatan yang lebih setia pada visual dan gaya permainan. Sagat, yang tampil akurat secara lore dalam bentuk animasi, justru dihadirkan sebagai cliffhanger untuk potensi sekuel. Sementara itu, karakter Joe yang diperankan Alexander Volkanovski menjadi salah satu kejutan tersendiri dalam turnamen.
Karier Andrew Koji di Balik Layar
Terlepas dari kontroversi filmnya, nama Andrew Koji justru semakin bersinar. Sebelum membintangi street fighter movie, ia telah membangun rekam jejak lewat serial Warrior yang dikembangkan dari konsep cerita Bruce Lee, di mana ia memerankan Ah Sahm. Ia juga tampil sebagai Tommy atau Storm Shadow dalam Snake Eyes: G.I. Joe Origins, beradu akting dengan Bill Skarsgård dalam Boy Kills World, serta menunjukkan sisi romantisnya dalam serial mata-mata Black Doves bersama Keira Knightley.
Dengan kompetisi yang relatif minim di segmen aksi berating R pada Oktober, film ini masih memiliki peluang. Namun, November akan menghadirkan tantangan baru seperti Godzilla Minus Zero. Apakah street fighter movie mampu bertahan dan membuktikan bahwa waralaba ini layak memiliki masa depan sinematik? Jawabannya akan ditentukan dalam beberapa pekan mendatang, dan para penggemar tentu berharap Ryu serta kawan-kawan bisa melangkah lebih jauh dari sekadar pemanasan di babak kualifikasi.
Pada akhirnya, perjalanan street fighter movie menjadi cermin betapa sulitnya menerjemahkan semangat arcade ke layar lebar. Antara ambisi visual yang penuh warna dan tuntutan naratif yang rapi, film ini masih harus berjuang keras. Jika berhasil, ia bisa membuka jalan bagi sekuel yang lebih matang. Jika gagal, ia akan menjadi pengingat lain bahwa tidak semua pertarungan di dunia nyata bisa dimenangkan hanya dengan semangat bertarung.
