Gempuran Houthi ke Arab Saudi Memanas, Warga Sipil hingga Artis Indonesia Ikut Panik
Kalimantan Update – 28 Oktober 2026 | Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok pemberontak Houthi dari Yaman mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan rudal balistik dan drone ke sejumlah lokasi strategis di Arab Saudi. Serangan yang diklaim terjadi pada Selasa (27/10) itu menyasar gedung Kementerian Pertahanan di Riyadh serta sejumlah fasilitas militer dan bandara, memicu kekhawatiran luas akan meluasnya konflik bersenjata di kawasan.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, melalui unggahan di platform media sosial X menyatakan bahwa pihaknya menembakkan rudal balistik ke arah gedung Kementerian Pertahanan Arab Saudi di ibu kota Riyadh. Dalam pernyataan terpisah, ia juga mengklaim bahwa kelompoknya menargetkan Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya menggunakan drone, serta meluncurkan dua rudal balistik yang diarahkan ke pesawat angkut militer di Bandara Najran dan Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait. Houthi turut mengklaim telah menggagalkan pergerakan pasukan yang didukung Arab Saudi di dekat Selat Bab al-Mandab.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pejabat Arab Saudi terkait klaim tersebut. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi melalui akun X menyampaikan bahwa puing-puing dari pencegatan dua rudal balistik jatuh di Riyadh pada hari yang sama. Insiden itu dilaporkan merusak sebuah bangunan dan lokasi konstruksi, serta menimbulkan kerusakan material pada sebuah kendaraan. Tidak ada laporan resmi mengenai korban jiwa dari peristiwa tersebut.
Perkembangan terbaru ini terjadi di tengah pertempuran yang masih berkecamuk di Yaman. Konflik kembali memanas sejak Juli, seiring dengan berlanjutnya serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi menggunakan drone dan rudal balistik. Di Kota Taiz, baku tembak artileri dan serangan udara dilaporkan semakin intensif. Pasukan koalisi pimpinan Saudi menggempur sejumlah kawasan yang dikuasai Houthi, seperti Midan Haits, Al-Saqab, Al-Aqroudh, dan area sekitar Gunung Han, dengan sedikitnya delapan serangan udara dalam kurun 24 jam terakhir. Houthi membalas dengan mengklaim telah menembak jatuh sebuah pesawat pengintai bersenjata milik Arab Saudi yang beroperasi memantau wilayah udara Taiz.
Dampak konflik ini ternyata tidak hanya dirasakan di tingkat geopolitik, tetapi juga oleh warga sipil, termasuk rombongan jamaah umrah asal Indonesia. Rombongan yang dipimpin selebritas Raffi Ahmad dan Irfan Hakim mengalami situasi menegangkan saat bus yang mereka tumpangi menuju Kota Taif tiba-tiba menerima notifikasi darurat berisi peringatan ancaman serangan udara. Peringatan itu meminta masyarakat di wilayah terdampak segera mencari tempat berlindung, menjauhi jendela dan pintu, serta mengikuti arahan otoritas Pertahanan Sipil setempat. Perjalanan menuju Taif pun dibatalkan dan rombongan diarahkan kembali ke kawasan yang dinilai lebih aman.
“Di perjalanan ibadah kali ini, kami berusaha semakin berserah diri kepada Allah. Saat di bus, tiba-tiba muncul peringatan ancaman serangan udara,” ujar selebgram Meisita Lomania melalui akun media sosial pribadinya, seraya menambahkan bahwa para jamaah berusaha tetap tenang sembari memanjatkan doa agar tidak ada korban akibat ancaman tersebut.
Di sisi lain, eskalasi serangan Houthi turut mendorong Mesir mempertimbangkan pengerahan pasukan pertahanan ke Arab Saudi. Wacana ini muncul setelah serangan awal Oktober ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan 13 orang, termasuk seorang warga negara Mesir. Pada 18 Oktober, Dewan Pertahanan Nasional Mesir menyatakan kesiapan penuh memberikan segala bentuk dukungan demi keselamatan wilayah Arab Saudi. Presiden Abdel Fattah el-Sisi menegaskan bahwa potensi pengerahan pasukan bersifat murni defensif untuk melindungi kedaulatan Arab Saudi, bukan bentuk agresi langsung terhadap Houthi.
Namun, rencana tersebut memicu kembali trauma sejarah keterlibatan militer Mesir di Yaman pada 1962-1970, yang menewaskan lebih dari 10 ribu tentara Mesir dan dijuluki sebagai Vietnam di Laut Merah. Ketidakstabilan di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab juga mengancam pendapatan Terusan Suez serta harga minyak Mesir. El-Sisi menyebut kerugian finansial akibat ketidakstabilan regional telah mencapai 20 miliar dolar AS atau setara Rp362 triliun.
Sementara itu, di ranah olahraga, tawaran finansial besar dari klub Arab Saudi dikabarkan turut mengubah peta transfer pemain. Winger asal Inggris, Jadon Sancho, dikabarkan menutup peluang bergabung dengan Getafe setelah menerima tawaran menggiurkan dari salah satu klub di Arab Saudi yang siap memenuhi tuntutan finansialnya.
Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangan rudal dan drone yang terus berlanjut, pertempuran darat di Yaman, serta keterlibatan kekuatan regional seperti Mesir menjadikan kawasan ini sebagai salah satu titik panas paling rawan di dunia. Masyarakat internasional pun diimbau terus memantau perkembangan situasi, terutama bagi warga sipil dan jamaah yang berada di wilayah terdampak, sementara upaya diplomasi dan solusi politik dinilai semakin mendesak untuk mencegah konflik yang lebih luas.
