Houthi Gempur Arab Saudi, Bandara Riyadh Lumpuh dan Harga Minyak Dunia Terancam
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Ketegangan antara Houthi Arab Saudi kembali memanas setelah kelompok militan yang didukung Iran itu melancarkan serangkaian serangan besar terhadap sejumlah target strategis di Kerajaan Arab Saudi. Dalam rekaman video yang dirilis pada Senin, 19 Oktober 2026, Houthi memperlihatkan aksi pertempuran melawan pasukan yang didukung Arab Saudi di Provinsi Al-Jawf, Yaman. Rekaman tersebut menampilkan ledakan, kendaraan terbakar, baku tembak, hingga pergerakan pasukan di wilayah gurun, menandai eskalasi baru dalam konflik Houthi Arab Saudi yang telah berlangsung sejak 2015.
Konflik ini bermula ketika Arab Saudi ikut campur dalam perang saudara Yaman untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional. Ketegangan sempat mereda setelah gencatan senjata pada 2022, namun situasi kembali memburuk pada Juli 2026 ketika Houthi kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Kelompok Houthi menuduh Arab Saudi menyerang Bandara Sana’a di Yaman untuk mencegah pesawat dari Iran mendarat, yang kemudian memicu kembali ketegangan terkait blokade yang diberlakukan oleh pimpinan Arab Saudi.
Pada Senin, 19 Oktober 2026, Houthi mengklaim telah melakukan “enam operasi militer kualitatif” dalam 48 jam terakhir terhadap target-target di Arab Saudi. Serangan tersebut menyasar fasilitas Saudi Aramco di kota pelabuhan Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta Bandara Internasional King Khalid dan Abha. Tindakan ini diklaim sebagai balasan atas “lebih dari dua ratus serangan udara dan rudal” yang dilancarkan koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap fasilitas sipil di Sanaa, Yaman. Serangan Houthi ini menjadi babak baru dalam konflik Houthi Arab Saudi yang semakin mengancam stabilitas kawasan.
Dampak serangan tersebut sangat terasa. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, bandara utama Arab Saudi, membatasi aktivitas penerbangan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Setiap penerbangan yang akan mendarat atau lepas landas harus mendapatkan izin terlebih dahulu, dan bandara tersebut tidak dapat digunakan sebagai bandara alternatif dalam situasi darurat. Sejumlah maskapai pun menghentikan penerbangan, termasuk Qatar Airways yang menangguhkan penerbangan ke Riyadh hingga 24 Oktober dan mengurangi frekuensi ke Jeddah, serta Etihad Airways, Akasa Air, dan Air India. Serangan sebelumnya sekitar 10 hari lalu menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai ratusan lainnya. Terbaru, seorang pejabat menyebutkan korban tewas akibat serangan Houthi di bandara mencapai 13 orang.
Selain itu, gedung pencakar langit Kingdom Center di Riyadh mewajibkan karyawannya bekerja dari rumah hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pengelola tidak menjelaskan alasan pasti, namun kebijakan ini muncul di tengah potensi serangan Houthi. Sejumlah lembaga keuangan penting berkantor di gedung itu, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Merrill Lynch. Kegiatan belajar di sekolah-sekolah Riyadh dan sekitarnya juga kembali dilakukan secara daring untuk pekan kedua. Konflik Houthi Arab Saudi juga menyebabkan penundaan konferensi Future Investment Initiative yang sedianya berlangsung pekan depan hingga tahun depan.
Di sisi lain, konflik ini turut mengguncang pasar minyak dunia. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Desember turun tipis 0,1 persen menjadi USD109,44 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS juga turun 0,1 persen menjadi USD98,45 per barel. Meski turun, harga masih berada di level tinggi karena kekhawatiran pasokan akibat pertempuran sengit antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Konflik ini mengancam kelancaran arus minyak di Selat Bab el-Mandeb, dan meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz turut membebani sentimen pasar.
Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan kematian personel militernya untuk pertama kali sejak eskalasi terbaru. Menurut pernyataan Arab Saudi, dua pilot helikopter tewas di dekat perbatasan Yaman akibat “gangguan teknis”, meskipun sebelumnya Houthi mengklaim telah menembak jatuh helikopter Apache milik “musuh Saudi”. Di Arab Saudi, dua drone dicegat di atas Riyadh pada malam hari, dan satu drone lainnya ditembak jatuh di Provinsi Timur yang kaya akan minyak. Hingga berita ini diturunkan, pihak Arab Saudi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait klaim serangan Houthi, dan CNBC tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, konflik Houthi Arab Saudi tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga pada perekonomian global. Serangan terhadap infrastruktur energi dan bandara internasional telah memaksa Arab Saudi mengambil langkah-langkah darurat, mulai dari pembatasan penerbangan hingga kebijakan kerja dari rumah. Masyarakat internasional pun diimbau untuk terus memantau perkembangan situasi di Yaman dan Arab Saudi, mengingat potensi meluasnya konflik yang dapat mengganggu stabilitas pasokan minyak dunia dan perdagangan internasional.
