Ketika Gas Menjadi Taruhan: Dari Gas Air Mata di Jakarta hingga Strategi Ketahanan Energi Nasional
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Isu gas kembali mencuat ke permukaan dalam dua wajah yang berbeda pada pekan ini. Di Jakarta, aparat kepolisian menembakkan gas air mata dan meriam air ke arah pendemo di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10). Sementara di ranah kebijakan, pemerintah justru tengah menghitung ulang arah pasokan gas bumi nasional demi memperkuat ketahanan energi di tengah gejolak geopolitik global.
Peristiwa di Jakarta Pusat berlangsung ketika sejumlah pendemo sempat tertahan selama beberapa jam di sekitar perempatan lampu merah Gedung Graha Mandiri. Mereka diadang barisan polisi yang menggunakan tameng. Sebagian massa lainnya yang sudah berada di area Bundaran HI terus menyampaikan aspirasi dan protesnya, dan berhasil menembus penjagaan aparat sejak siang. Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dan warga sipil lainnya, dengan tuntutan yang menyuarakan kondisi sosial-politik yang dinilai tidak baik-baik saja.
Di sisi lain, keputusan pemerintah memangkas pasokan gas bumi ke Singapura mendapat dukungan sejumlah pihak. Mulai Sabtu (24/10), Indonesia mengurangi ekspor gas melalui pipa ke Singapura sebesar 31 miliar british thermal unit per hari (bbtud). Pengurangan tersebut berasal dari Natuna sebesar 15 bbtud dan Sumatra 16 bbtud. Pemerintah menegaskan pemangkasan itu tidak melanggar kontrak karena masih berada dalam batas minimum pasokan yang disepakati.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kredibilitas Indonesia sebagai mitra perdagangan internasional sekaligus memastikan kebutuhan energi dalam negeri terpenuhi. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, memastikan kebutuhan gas untuk domestik bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan kenegaraan. Prioritas pada ketahanan energi nasional menjadi kata kunci yang terus digaungkan.
ASEAN di Ambang Defisit Gas
Persoalan pasokan gas ternyata bukan hanya milik Indonesia. Dalam forum 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, terungkap bahwa kawasan ASEAN diperkirakan menjadi pengimpor bersih gas setelah 2032. Artinya, negara-negara di kawasan perlu mencari sumber pasokan alternatif untuk memperkuat ketahanan energi.
PT Pertamina (Persero) melihat peluang dari pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME). Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyebut potensi biomethane dari limbah cair kelapa sawit di Indonesia dapat mencapai lebih dari 200 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
“Kita mendiskusikan bagaimana menangkap metana yang keluar dari limbah-limbah cair yang ada di Indonesia dan juga di negara lain. Sebagai contoh, untuk limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD potensi biomethane yang bisa kita monetisasi,” kata Oki.
Menurut proyeksi yang disampaikan dalam forum tersebut, defisit gas di ASEAN menuntut percepatan pengembangan proyek gas alam sekaligus optimalisasi sumber energi yang tersedia. Kerja sama investasi antarnegara juga diperlukan untuk memperkuat produksi dan menjaga ketersediaan pasokan energi dalam jangka panjang.
“Agar nanti anak cucu kita bisa bertahan, tentu kita harus membuat perencanaan yang matang, bagaimana kita bisa memperbanyak produksi di masing-masing negara dan juga aktif berinvestasi bersama-sama di kawasan yang lain,” ujarnya.
Mengubah Limbah Menjadi Energi
Direktur Utama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, mengatakan Pertamina mulai mengembangkan peluang komersialisasi biomethane melalui kerja sama dengan Singapore LNG Corporation (SLNG). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengolah POME dari pabrik kelapa sawit menjadi biometana yang selanjutnya dapat diproses menjadi bio-liquefied natural gas (Bio-LNG).
Namun, realisasi potensi tersebut bergantung pada kesiapan teknologi pengolahan, keekonomian proyek, infrastruktur distribusi, serta kepastian pasar yang akan menyerap produk gas tersebut. Pengembangan biomethane juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pengelolaan limbah industri dengan kebutuhan energi.
Peta Ekspor Gas Indonesia
Sejauh ini, Indonesia masih mengekspor gas ke sejumlah negara tujuan melalui skema pipa maupun LNG. Berikut gambaran ringkas arah ekspor tersebut:
| Negara Tujuan | Skema | Keterangan |
|---|---|---|
| Singapura | Pipa | Dipangkas 31 bbtud mulai 24 Oktober |
| Natuna | Pipa | Kontribusi pengurangan 15 bbtud |
| Sumatra | Pipa | Kontribusi pengurangan 16 bbtud |
Di sisi lain, perdebatan seputar gas juga muncul dalam diskursus lingkungan, misalnya soal contrails atau jejak putih di langit yang ditinggalkan pesawat. Jejak tersebut merupakan awan gas buang berbentuk garis yang terdiri dari uap air, karbon dioksida, dan emisi lain seperti oksida belerang, hidrokarbon, serta partikel tertentu. Contrails yang bertahan lama dapat berinteraksi dengan angin dan awan untuk membentuk awan sirus yang berpotensi memberikan efek pemanasan bersih dalam skala kecil.
Menimbang Arah Kebijakan
Dari jalanan Jakarta hingga meja perundingan energi di Bali, kata gas menyimpan banyak lapisan kepentingan. Di satu sisi, gas air mata menjadi simbol ketegangan sosial yang belum terselesaikan. Di sisi lain, gas bumi menjadi komoditas strategis yang menentukan masa depan ketahanan energi nasional dan kawasan.
Pengurangan ekspor gas ke Singapura patut didukung sepanjang benar-benar diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Sementara itu, pengembangan biomethane dari limbah sawit menawarkan jalan alternatif yang menjanjikan, dengan catatan kesiapan teknologi, keekonomian, dan infrastruktur distribusi harus dipersiapkan secara matang. Tanpa perencanaan yang serius, potensi besar itu hanya akan menjadi angka di atas kertas.
Pada akhirnya, kebijakan energi yang berpihak pada kebutuhan dalam negeri, ditopang diversifikasi sumber gas, serta penyelesaian persoalan sosial secara dialogis, menjadi kunci bagi Indonesia untuk tetap berdiri tegak di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
