Terdampak El Nino 86 Daerah Defisit Pangan, DPR Minta Bulog dan Bapanas Bergerak Cepat
Kalimantan Update – 31 Oktober 2026 | JAKARTA – Dampak fenomena El Nino yang cukup keras tahun ini mulai terasa pada sektor pertanian. Anggota Komisi IV DPR RI Riyono menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional harus dijaga ketat melalui pilar ketersediaan, distribusi, cadangan, hingga kemudahan akses masyarakat. Ia menyoroti bahwa Terdampak El Nino 86 Daerah Defisit Pangan menjadi perhatian serius karena wilayah-wilayah tersebut sangat bergantung pada pasokan dari luar pulau.
Meski potensi penurunan produksi pertanian akibat kekeringan tidak bisa dihindari, Riyono memastikan cadangan pangan nasional saat ini masih aman untuk memenuhi kebutuhan beberapa bulan ke depan. Menurutnya, lembaganya terus mengawal sejauh mana persentase penurunan produksi akibat cuaca ekstrem berdampak langsung pada stabilitas stok pangan.
“Bagaimana dengan kondisi musim El Nino yang cukup keras ini, tentu kemungkinan adanya penurunan produksi pasti ada, tetapi tentu kita akan mengikuti sejauh mana kemudian penurunan ini sampai di angka berapa persen. Katakanlah misalkan sampai angka 20 persen pun untuk saat ini dengan cadangan pangan nasional yang kita miliki, ini masih cukup untuk kebutuhan minimal 5-10 bulan ke depan,” ujar Riyono melalui pesan suara yang disampaikan di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Legislator dari Fraksi PKS ini meminta Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk bergerak cepat melakukan mitigasi khusus di 86 wilayah yang dikategorikan sebagai daerah defisit pangan. Menurutnya, wilayah-wilayah yang bergantung pada pasokan luar pulau tersebut sangat rentan terhadap gejolak lonjakan harga. “Oleh karena itu, Komisi IV meminta kepada Bulog dan sekaligus juga kepada Badan Pangan Nasional memitigasi potensi-potensi daerah, 86 daerah yang masuk kategori daerah dengan kategori defisit pangan karena dia tidak bisa menghasilkan pangan kalau dia tidak mendapatkan pasokan dari luar pulau,” tegasnya.
Selain mengamankan distribusi wilayah defisit, Riyono juga menekankan pentingnya keberpihakan negara terhadap kesejahteraan petani lokal di perdesaan yang menjadi tolok ukur utama ketahanan pangan nasional di tengah ancaman kekeringan berkepanjangan. “Ini menjadi sangat penting karena daerah-daerah inilah yang memunculkan potensi kenaikan-kenaikan harga yang lebih besar dibanding dengan daerah-daerah produksi pangan. Oleh karena itu, petani lokal sebagai petani yang menjadi tolok ukur utama, kesejahteraan petani di wilayah perdesaan itu yang harus menjadi perhatian pemerintah,” pungkasnya.
Isu Terdampak El Nino 86 Daerah Defisit Pangan bukan kali pertama mencuat. Sebelumnya, sejumlah lembaga telah memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memperparah kerentanan pangan di daerah-daerah yang secara alami memiliki keterbatasan lahan pertanian. Riyono menilai bahwa sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga pangan menjadi kunci untuk mencegah krisis pangan.
Dalam konteks yang lebih luas, Terdampak El Nino 86 Daerah Defisit Pangan juga menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat infrastruktur distribusi dan cadangan pangan di tingkat lokal. Bulog diminta tidak hanya fokus pada pengadaan beras, tetapi juga memastikan kelancaran pasokan ke daerah-daerah terpencil. Sementara Bapanas diharapkan dapat menyusun peta kerawanan pangan yang lebih akurat dan responsif terhadap dinamika cuaca.
Pengamat pertanian menilai bahwa penurunan produksi akibat El Nino dapat mencapai 10-20 persen tergantung intensitas kekeringan. Namun, dengan manajemen cadangan yang baik, kebutuhan pokok masyarakat masih dapat terpenuhi. Yang terpenting, kata Riyono, adalah memastikan tidak ada daerah yang mengalami kelangkaan pangan hingga memicu inflasi tinggi.
Sebagai langkah konkret, Komisi IV DPR RI akan terus mengawal anggaran ketahanan pangan dan meminta laporan berkala dari Bulog serta Bapanas. Riyono juga mendorong pemerintah daerah untuk aktif mengembangkan sumber pangan alternatif lokal, sehingga ketergantungan pada pasokan luar pulau dapat dikurangi secara bertahap.
Dengan demikian, Terdampak El Nino 86 Daerah Defisit Pangan harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk bersatu menjaga kedaulatan pangan. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari petani, distributor, hingga pembuat kebijakan, menjadi prasyarat utama agar ketahanan pangan nasional tetap kokoh menghadapi tantangan iklim yang semakin tidak menentu.
