Di Balik Lonjakan Pendapatan Bunga KB Bank 28,94%: Kredit Wholesale Jadi Motor, Rasio Kredit Berisiko Masih Jadi Bayangan
Kalimantan Update – 03 November 2026 | PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) menorehkan kinerja intermediasi yang positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. KB Bank membukukan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp926 miliar, tumbuh 28,94 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian tersebut sekaligus mengerek rasio margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) KB Bank menjadi 1,71 persen.
Kenaikan pendapatan bunga bersih ini menjadi salah satu perkembangan penting dalam perjalanan transformasi bisnis perseroan di tengah persaingan likuiditas dan dinamika industri perbankan nasional yang semakin ketat.
Kredit Wholesale Jadi Penopang Utama
Dari sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan KB Bank mencapai Rp45,68 triliun hingga September 2026, tumbuh 3,07 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh segmen wholesale banking yang meningkat 11 persen secara tahunan.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyatakan bahwa perseroan terus memperkuat bisnis nasabah korporasi dan mengembangkan portofolio pembiayaan secara selektif dengan mempertimbangkan profil risiko serta kualitas debitur. Strategi itu menjadi bagian dari upaya bank mengoptimalkan pendapatan bunga bersih.
“Bank berfokus pada optimalisasi pendapatan, pengembangan portofolio kredit berkualitas, penguatan struktur pendanaan, serta peningkatan efisiensi operasional dan tata kelola untuk mendukung keberlanjutan bisnis,” kata Kunardy dalam keterangan resminya, Senin (2/11/2026).
Ia menambahkan, pertumbuhan pendapatan bunga bersih merupakan perkembangan positif dalam perjalanan transformasi KB Bank. Perseroan akan terus mengoptimalkan kinerja bisnis dengan tetap memperhatikan kualitas portofolio kredit, pengelolaan pendanaan, dan disiplin dalam pengelolaan risiko.
Kualitas Aset Masih Jadi Tantangan
Di tengah perbaikan pendapatan, KB Bank masih menghadapi tantangan penyehatan kualitas aset. Rasio loan at risk (LAR) tercatat sebesar 21,62 persen pada September 2026. Angka tersebut memang menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun masih menjadi perhatian dalam proses penyehatan portofolio kredit perseroan.
KB Bank melanjutkan penyehatan portofolio melalui penerapan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit baru, sembari menyelesaikan kredit bermasalah. Perseroan mengandalkan restrukturisasi dan penyelesaian kredit bermasalah untuk menekan risiko pencadangan yang berpotensi menggerus profitabilitas.
Perbaikan kualitas aset dinilai menjadi faktor krusial untuk mendukung pemulihan profitabilitas secara berkelanjutan, terutama ketika bank harus menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan risiko.
Strategi Pendanaan dan Likuiditas
Di tengah persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat, KB Bank menyiapkan sejumlah langkah strategis. Perseroan akan mengembangkan hubungan dengan nasabah korporasi dan ritel, menggenjot transaksi nasabah, serta mengoptimalkan komposisi dana guna menjaga kecukupan likuiditas dalam mendukung aktivitas intermediasi.
Perseroan juga menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko pasar dan nilai tukar melalui pemantauan eksposur serta langkah mitigasi sesuai kebijakan internal dan ketentuan yang berlaku.
Tekanan Beban Operasional Industri
Langkah efisiensi menjadi relevan mengingat sejumlah bank besar mencatat kenaikan beban operasional hingga kuartal III-2026. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya, membukukan beban operasional Rp24,20 triliun atau naik 12 persen YoY, sejalan dengan pertumbuhan pendapatan operasional 11,8 persen YoY menjadi Rp51,74 triliun.
Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat kenaikan beban operasional menjadi Rp26,8 triliun atau tumbuh 3,7 persen YoY, terutama berasal dari biaya umum dan administrasi yang meningkat 8,7 persen YoY. Kenaikan biaya di industri ini terjadi di tengah ekspansi bisnis, pengembangan layanan digital, serta penguatan infrastruktur teknologi perbankan.
Dalam konteks itu, disiplin efisiensi operasional yang ditekankan KB Bank menjadi kunci untuk menjaga margin di tengah tekanan biaya industri dan persaingan likuiditas.
Prospek ke Depan
Kinerja sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan KB Bank berada di jalur perbaikan pendapatan yang ditopang segmen wholesale banking. Namun, penurunan rasio kredit berisiko dan penguatan profitabilitas berkelanjutan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.
Dengan strategi pertumbuhan kredit yang selektif, penguatan struktur pendanaan, serta disiplin manajemen risiko, KB Bank berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kualitas portofolio. Keberhasilan menekan rasio kredit berisiko akan menentukan sejauh mana perbaikan pendapatan bunga bersih mampu berujung pada pemulihan laba yang lebih solid di masa mendatang.
Penulis: Sukardi
Editor: Tri Widodo
Sumber Berita: Fortune Indonesia, INDUSTRY.co.id, Kontan.co.id
