Cadangan Emas China Melonjak 23 Bulan Berturut-turut, Sinyal Diversifikasi Global
Kalimantan Update – 10 Oktober 2026 | Bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC), kembali menambah cadangan emas pada September 2026. Ini menandai bulan ke-23 berturut-turut pembelian emas oleh negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Langkah ini memperkuat sinyal bahwa China semakin serius melakukan diversifikasi cadangan devisa di tengah gejolak pasar keuangan global.
Menurut data PBOC, cadangan emas China naik menjadi 77,47 juta troy ounce pada September, dari 76,73 juta troy ounce pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini konsisten dengan strategi jangka panjang China untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan aset berdenominasi dolar lainnya. Meski demikian, cadangan devisa China yang merupakan terbesar di dunia justru mengalami penurunan menjadi US$3,400 triliun pada akhir September, dari US$3,438 triliun pada bulan sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memperkirakan US$3,420 triliun.
Penurunan cadangan devisa tersebut terjadi ketika dolar AS kembali menguat. Indeks dolar AS naik 2,06% sepanjang September, sementara yuan China justru menguat 0,22% terhadap dolar AS. Perubahan nilai tukar dan pergerakan harga aset lain yang menjadi komponen cadangan devisa turut memengaruhi nilai cadangan devisa yang dilaporkan.
Langkah China ini bukan tanpa alasan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas dianggap sebagai aset safe haven yang dapat melindungi nilai kekayaan negara. Selain itu, dengan meningkatkan cadangan emas, China berupaya memperkuat posisi keuangannya di kancah internasional dan mengurangi risiko dari sanksi ekonomi yang mungkin dijatuhkan oleh negara lain.
Fenomena ini juga mencerminkan tren global di mana banyak bank sentral di dunia meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa mereka. Bank Indonesia, misalnya, juga mengelola cadangan devisa yang mencakup emas moneter, SDR, posisi cadangan di IMF, serta valuta asing. Cadangan devisa sendiri berfungsi sebagai tabungan negara untuk membayar utang luar negeri, membiayai impor, dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Di sisi lain, pasar energi global juga menunjukkan dinamika menarik. Harga minyak mentah dunia turun pada awal Oktober 2026 setelah negara-negara G7 sepakat melepas 100 juta barel stok cadangan darurat. Harga minyak Brent berjangka turun 0,34% menjadi US$101,90 per barel, sedangkan WTI AS turun 0,68% menjadi US$90,49 per barel. Pelepasan cadangan darurat ini bertujuan meredakan kekhawatiran pasokan jangka pendek, meskipun ekspor minyak dari Timur Tengah mulai pulih.
Kebijakan G7 tersebut mendapat sorotan karena juga disertai janji untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi. Analis menilai langkah ini berhasil menenangkan pasar, namun tetap ada tantangan logistik karena pengiriman minyak masih melalui rute yang kurang efisien.
Kembali ke China, akumulasi cadangan emas yang konsisten menunjukkan bahwa negara tersebut memandang emas sebagai instrumen penting untuk menghadapi ketidakpastian global. Dengan cadangan emas yang terus bertambah, China berpotensi memiliki bantalan yang lebih kuat dalam menghadapi gejolak nilai tukar dan krisis keuangan.
Bagi investor dan pelaku pasar, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa permintaan emas dari bank sentral masih akan menjadi faktor pendukung harga emas dalam jangka panjang. Diversifikasi cadangan devisa yang dilakukan China dan negara lain dapat memengaruhi dinamika pasar komoditas ini.
Secara keseluruhan, penambahan cadangan emas China selama 23 bulan berturut-turut merupakan cerminan strategi jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, penurunan cadangan devisa akibat penguatan dolar AS menunjukkan bahwa pengelolaan cadangan devisa tetap menjadi tantangan tersendiri. Ke depan, mata dunia akan terus memantau langkah China dan negara-negara lain dalam mengelola cadangan emas dan devisa mereka.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Liputan6, Utusan Malaysia, IDN Times, CNN Indonesia
