Di Balik Derita Pedagang: Dari Komisi Durian Vietnam hingga Kabut Asap Singapura
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Nasib pedagang di berbagai belahan dunia tengah diuji oleh beragam tantangan, mulai dari persaingan pasokan komoditas hingga bencana lingkungan. Di Vietnam, para pedagang durian rela merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan stok Musang King, sementara di Singapura, kabut asap membuat omzet pedagang kuliner merosot tajam. Di Indonesia sendiri, pedagang menjadi korban aksi tawuran dan penjarahan di Manggarai, Jakarta Selatan. Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa dunia perdagangan tidak pernah lepas dari dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Di kawasan Delta Mekong, Vietnam, tren durian Musang King telah memicu persaingan sengit di antara para pedagang. Buah yang dijuluki ‘raja durian’ ini semakin langka di pasaran, sehingga para pedagang bersedia membayar komisi tinggi kepada agen pencari pasokan. Manh Khuong, seorang pedagang di Delta Mekong, mengungkapkan bahwa ia membayar komisi sekitar Rp4.200 per kilogram untuk setiap durian Musang King yang berhasil ditemukan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan komisi untuk varietas Ri6 atau Say Rieng yang hanya sekitar Rp1.400 per kilogram. Khuong mengaku telah mendatangi sejumlah kebun durian di Provinsi Dong Thap dan Vinh Long, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal karena sebagian besar kebun baru memasuki masa panen sekitar sepuluh hari mendatang.
Persaingan tidak hanya datang dari sesama pedagang lokal. Para pengecer dari Hanoi dan Kota Ho Chi Minh kini membeli durian langsung dari petani, sehingga peluang pedagang seperti Khuong untuk mendapatkan stok semakin terbatas. Situasi serupa dialami pedagang lain di Dong Thap. Meski menawarkan komisi sekitar Rp3.500 per kilogram, ia hanya mampu memperoleh satu ton durian dalam dua hingga tiga hari. Ketua Asosiasi Durian Dong Thap, Vo Tan Loi, menjelaskan bahwa musim panen utama Musang King telah berakhir sekitar dua bulan lalu, dan saat ini petani tengah mempersiapkan musim panen berikutnya. Durian Musang King yang berasal dari Malaysia memang tidak mudah dibudidayakan di Vietnam, sehingga pasokannya cenderung terbatas dan tersebar di beberapa wilayah.
Sementara itu, di Singapura, kabut asap yang menyelimuti negara itu berdampak parah pada sektor kuliner. Penurunan jumlah pengunjung membuat sejumlah pedagang di pusat kuliner seperti Tekka Centre mengalami kemerosotan omzet hingga 60 persen. Zaiton Bee, pemilik warung makan berusia 73 tahun, mengungkapkan jumlah pelanggan hariannya turun dari sekitar 500 menjadi 200 orang. Kondisi ini membuatnya mempertimbangkan untuk menutup usaha jika pendapatan tidak kunjung membaik. Restoran Harry’s juga melaporkan penurunan kunjungan sekitar 40 persen di sejumlah gerainya. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) memperkirakan Indeks Standar Polutan (PSI) pada 19 Oktober 2026 berada pada kisaran 101–190 atau kategori tidak sehat, dan kabut asap dari Kalimantan masih berpotensi bergerak menuju Singapura.
Di Jakarta, pedagang juga menjadi korban aksi tawuran antarwarga di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Dimas, seorang pemilik konter telepon seluler berusia 22 tahun, mengalami kerugian lebih dari Rp2 juta setelah barang dagangannya dijarah dan etalase tokonya dirusak. Barang yang hilang antara lain kartu perdana, empat toples pengisi daya, serta sejumlah kabel. Kaca etalase konternya juga pecah akibat aksi penjarahan tersebut. Menurut Dimas, keributan berlangsung dalam tiga gelombang, yakni pada Minggu dini hari, pagi, dan menjelang Magrib yang berujung pada aksi pembakaran. Insiden ini menambah derita pedagang kecil yang harus kehilangan modal dan pendapatan akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab.
Selain itu, harga daging ayam di Bali pada 19 Oktober 2026 tercatat naik menjadi Rp44.214 per kilogram. Kenaikan harga pangan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang dan konsumen. Di sisi lain, tradisi Jawa melalui primbon juga membahas weton tertentu yang diyakini memiliki naluri dagang yang kuat. Meski demikian, keberhasilan pedagang tetap ditentukan oleh kerja keras, kejujuran, dan kemampuan beradaptasi.
Dari rangkaian peristiwa tersebut, dapat disimpulkan bahwa pedagang selalu menghadapi tantangan yang datang dari berbagai arah. Mulai dari persaingan pasokan yang menuntut strategi ekstra, bencana lingkungan yang menekan pendapatan, hingga aksi kriminalitas yang merugikan secara materiil. Ketangguhan dan adaptasi menjadi kunci bagi para pedagang untuk bertahan di tengah dinamika yang tidak pasti. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, sangat diperlukan agar roda perekonomian tetap berjalan, terutama bagi usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
