KALIMANTAN UPDATE - Mantan Perdana Menteri (PM) Bangladesh Sheikh Hasina pada hari Minggu (11/8) menuding Amerika Serikat telah mengatur protes massa yang menyebabkannya aksi demonstrasi setelah berminggu-minggu terjadi banyaknya kekerasan, kerusakan fasilitas hingga memaksanya mengasingkan diri ke negara tetangga India.
"Saya bisa tetap berkuasa jika saya menyerahkan St. Martin dan Teluk Benggala kepada Amerika," katanya dalam sebuah pesan kepada para pendukungnya di Liga Awami, yang diterbitkan oleh beberapa media India.
Pernyataan Hasina muncul di tengah hubungan yang tegang dengan AS dan tuduhan bahwa ia baru-baru ini berencana untuk membangun pangkalan udara di Teluk Benggala.
Baca Juga: Imbas Demonstrasi Besar, PM Bangladesh Sheikh Hasina Resmi Mundur dan Melarikan Diri ke India
Ini adalah pernyataan publik pertamanya sejak mengundurkan diri pada tanggal 5 Agustus setelah berminggu-minggu dapat protes besar dari demonstran yang mengakibatkan lebih dari 400 kematian.
Dalam ungkapannya lebih lanjut, alasan Hasina dengan secepatnya mengundurkan diri agar dirinya tidak terus melihat prosesi mayat.
"Mereka ingin berkuasa atas tubuh kalian (para mahasiswa), saya tidak mengizinkannya. Saya datang dengan kekuatan,” demikian lanjut dari pernyataan Hasina.
Baca Juga: Jackie Chan Datang ke Indonesia, Ada Apa?
“Mungkin jika saya berada di negara ini hari ini, lebih banyak nyawa akan melayang, lebih banyak kekayaan akan hancur.”
Sosok yang dijuluki “Wanita Besi” Bangladesh ini juga mengungkapkan kesedihan atas kematian beberapa pemimpin Liga Awami dan pelecehan terhadap para pendukungnya setelah pengunduran dirinya.
“Liga Awami selalu teguh. Saya akan selalu berdoa untuk masa depan Bangladesh, negara yang diperjuangkan ayah saya, dan negara yang diperjuangkan keluarga saya dengan mengorbankan nyawa mereka,” tambahnya.
Baca Juga: Airlangga Hartarto Mengundurkan Diri Sebagai Ketum Golkar, Waketum Buka Suara
Hasina mengundurkan diri dan melarikan diri dari Bangladesh pada 5 Agustus setelah berminggu-minggu protes, yang dimulai sebagai gerakan mahasiswa melawan sistem kuota pekerjaan publik yang dianggap diskriminatif.
Namun, kekerasan meningkat karena tindakan keras polisi, yang didukung oleh loyalis Liga Awami, yang menyebabkan lebih dari 400 kematian dan jatuhnya pemerintahannya.
Sementara Hasina tetap berada di New Delhi, Bangladesh kini memiliki pemerintahan sementara yang dipimpin oleh peraih Nobel Muhammad Yunus, yang menghadapi tantangan untuk memulihkan stabilitas negara yang terluka oleh pemberontakan dan 15 tahun kekuasaan Hasina.***
Artikel Terkait
Viral Video Wanita Perlihatkan Alat Kelaminnya dan Menari Tanpa Busana di Depan Lukisan Mona Lisa Dalam Museum Louvre Prancis
24 Ide Lomba 17 Agustus Yang Seru dan Menyenangkan Sambut Hari Kemerdekaan RI
Sang Arsitek Nyoman Nuarta Beri Penjelasan Hingga Beri Balasan Pengkritik Rancangan Burung Garuda di Istana Kepresidenan IKN
Netizen Malaysia Sindir Indonesia Miliki Ratusan Juta Warga Tapi Cuman Dapat Dua Medali Emas
Mencoba Tantangan Baru, Freya JKT48 Debut Perdana di Film Horor Eksorsime Kuasa Gelap
Perolehan Medali Olimpiade Paris 2024 Sementara Pada 11 Agustus: Tiongkok Geser Amerika Serikat, Australia dan Jepang Sengit
Daftar Atlet Peroleh Medali Terbanyak Olimpiade Paris 2024 Sementara Pada 11 Agustus
Kenali Perbedaan Jenis dan Manfaat Anggur, Buah Kecil Kaya Akan Manfaat Bagi Kesehatan Tubuh
Momen Pelari Prancis Alice Finot Usai Raih Medali Olimpiade Paris 2024 Melamar Sang Pacarnya
Review Film TRAP (2024), Potensi Cukup Tinggi Tapi Eksekusi Banyak Miliki Kekurangan
Usai Kendarai Skuter Listrik Dalam Keadaan Mabuk, Suga BTS Kini Dipanggil Kepolisian Korea
Update Perolehan Medali Olimpiade Paris 2024 Terakhir Pada 11 Agustus: Amerika Serikat Kembali Kuasai Klasemen dan Terbanyak, Belanda Melesat Naik
Mengenal Claudia Mancinelli Jadi Viral di Media Sosial, Sosok Pelatih Senam Italia Cantik Dengan Aksi Berani dan Memukau