Netanyahu Di Ambang Kekalahan: Oposisi Klaim Unggul, Perebutan 61 Kursi Knesset Memanas
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada di persimpangan politik paling kritis dalam kariernya setelah hasil pemilu legislatif 2026 tidak menghasilkan pemenang jelas. Dengan lebih dari 90 persen suara terhitung, blok pendukung Netanyahu gagal mengamankan mayoritas 61 kursi di Knesset, parlemen Israel yang beranggotakan 120 orang. Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) Gadi Eisenkot diperkirakan meraih 53 kursi, unggul tipis atas koalisi sayap kanan yang mendukung Netanyahu dengan 50 kursi.
Partai Likud milik Netanyahu memang masih menjadi kekuatan paling banyak meraih suara, namun posisi itu tidak serta-merta memberinya mandat untuk membentuk pemerintahan. Konstitusi Israel tidak mewajibkan Presiden Isaac Herzog menyerahkan mandat pembentukan kabinet kepada partai pemenang. Keputusan akhir bergantung pada siapa yang memiliki peluang realistis menggalang dukungan mayoritas di parlemen. Situasi ini membuka jalan bagi negosiasi alot yang melibatkan partai-partai Arab sebagai penentu.
Eisenkot Klaim Kemenangan Moral
Di hadapan pendukungnya di Tel Aviv, Eisenkot menyatakan hasil jajak pendapat mencerminkan keinginan rakyat untuk menentang Netanyahu. “Siapa pun yang ingin menawarkan alternatif nyata bagi pemerintahan Netanyahu, yang tangannya berlumuran darah, harus datang kepada kami dan membuka jalan menuju perubahan,” ujar tokoh senior Arab Israel, Yussef Jabareen, dalam pernyataan terpisah. Partai-partai Arab diproyeksikan meraih 18 hingga 19 kursi, rekor tertinggi sepanjang sejarah politik Israel, dengan Lista Bersatu dan Lista Arab Bersatu pimpinan Mansour Abbas sebagai kekuatan utama.
Eisenkot membuka peluang kerja sama dengan partai Arab dengan syarat pengakuan Israel sebagai negara Yahudi dan penolakan terhadap Hamas sebagai organisasi ekstremis. Namun, beberapa calon mitra koalisinya telah menolak opsi tersebut, sehingga peta jalan menuju pemerintahan alternatif masih kabur. Meski demikian, tingkat partisipasi pemilih mencapai hampir 78 persen, tertinggi sejak 1999, menandakan tingginya antusiasme publik terhadap perubahan.
Tuduhan Kecurangan dan Ketegangan Pasca-Pemilu
Ketegangan meningkat setelah Partai Likud menuduh adanya “pencurian suara” dan mengklaim telah menyerahkan ratusan bukti dugaan kecurangan kepada Komisi Pemilihan Umum Pusat, termasuk temuan ribuan amplop berisi uang tunai bersama surat suara partai Raam. Eisenkot merespons dengan menuduh Netanyahu sedang mengorkestrasi operasi delegitimasi terhadap proses demokrasi. “Netanyahu, yang terbiasa mengelola realitas melalui kebohongan dan manipulasi opini publik, bersama para sekutunya melancarkan operasi pengaruh terlarang terhadap warga Israel,” tegasnya.
Ketua Komisi Pemilihan Umum, Hakim Noam Sohlberg, meminta kepala dinas intelijen dalam negeri David Zini menyelidiki dugaan “campur tangan asing” dalam pemilu, yang oleh sejumlah media Israel dikaitkan dengan Qatar. Hingga kini, tuduhan tersebut masih sebatas klaim partai berkuasa dan belum terbukti secara resmi. Eisenkot menilai manuver ini bertujuan menunda pengumuman hasil dan “menciptakan delegitimasi fiktif” terhadap parlemen baru yang dijadwalkan dilantik pada 10 November 2026.
Empat Skenario Politik di Depan Mata
Para analis politik melihat setidaknya empat kemungkinan yang terbuka bagi Israel:
- Pemerintahan Persatuan Nasional: Netanyahu membujuk Eisenkot bergabung, meski langkah ini akan mengkhianati janji kampanye Eisenkot sebagai satu-satunya alternatif.
- Koalisi Alternatif: Eisenkot merangkul partai-partai Arab dan partai tengah untuk membentuk blok mayoritas, meski syarat pengakuan negara Yahudi menjadi hambatan ideologis.
- Pemerintahan Minoritas: Skenario rapuh yang bergantung pada dukungan eksternal tanpa kursi kabinet penuh.
- Pemilu Ulang: Jalan buntu berkepanjangan berpotensi memaksa Israel kembali ke bilik suara.
Di tengah krisis politik domestik, dinamika kawasan turut memanas. Serangan Houthi mengganggu lalu lintas udara di Yaman, bandara Aden menangguhkan penerbangan, dan serangan Israel berlanjut di Gaza serta Lebanon. Kontak antara Amerika Serikat dan Iran juga dilaporkan meningkat terkait pasokan medis dan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, perhatian utama tetap tertuju pada kemampuan Netanyahu mempertahankan kekuasaan di tengah erosi dukungan parlemen.
Dengan hasil resmi yang baru akan diketahui dalam beberapa hari ke depan setelah suara tentara dan diplomat di luar negeri dihitung, Israel berada dalam fase ketidakpastian politik yang menentukan. Apa pun hasil akhirnya, era dominasi tanpa syarat Netanyahu tampaknya telah berakhir, dan masa depan pemerintahan Israel kini bergantung pada negosiasi koalisi yang rumit serta peran krusial partai-partai Arab yang selama ini tersingkir dari panggung kekuasaan.
