Ketegangan Iran Memanas: Evakuasi Militer AS, Serangan Tanker di Selat Hormuz, dan Bayang-Bayang Perang Jelang Pemilu
Kalimantan Update – 23 Oktober 2026 | Ketegangan seputar Iran kembali mencuat ke permukaan setelah serangkaian perkembangan dramatis dalam beberapa hari terakhir, mulai dari penarikan pasukan Amerika Serikat dari sejumlah pangkalan militer di Timur Tengah hingga laporan serangan terhadap tujuh kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Situasi ini memunculkan kekhawatiran luas akan kemungkinan kembalinya perang besar-besaran di kawasan, tepat ketika Amerika Serikat dan Israel bersiap menghadapi pemilihan umum yang menentukan.
Menurut laporan yang beredar, pasukan AS telah ditarik dari instalasi militer di berbagai lokasi di Timur Tengah di tengah indikasi bahwa Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan besar terhadap Iran. Seorang pejabat AS dan dua sumber yang mengetahui arahan tersebut menyebutkan bahwa personel militer yang ditempatkan di Yordania, Qatar, dan Kuwait telah menerima perintah relokasi dalam beberapa hari terakhir. Langkah ini dikaitkan langsung dengan persiapan militer saat Trump menimbang untuk melanjutkan operasi tempur skala besar terhadap Iran, kemungkinan sebelum pemilihan sela bulan depan.
Departemen Luar Negeri AS secara bersamaan mengurangi personel di misi diplomatik di seluruh kawasan, termasuk di Arab Saudi, tempat pemberontak Houthi yang didukung Iran terus melancarkan serangan. Kedutaan Besar AS di Riyadh bahkan telah ditetapkan sebagai “ordered departure”, yang berarti hanya personel esensial yang tetap berada di fasilitas tersebut.
Laporan yang sama menyebutkan bahwa bom seberat 21.000 pon yang dikenal sebagai “Mother of All Bombs” termasuk di antara persenjataan yang dipertimbangkan untuk kemungkinan serangan terhadap situs nuklir dan infrastruktur energi Iran. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa pemerintahan memperkirakan tindakan militer tambahan dapat memaksa Iran untuk mengejar negosiasi guna mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa tujuh kapal tanker minyak terbakar atau rusak di Selat Hormuz dalam semalam setelah terkena serangan atau menabrak ranjau laut. Laporan tersebut mengutip pernyataan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi, yang kembali mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika Washington terus membantu mengawal kapal komersial melalui selat tersebut.
Laporan itu tidak menyebutkan korban jiwa. Iran masih mengklaim kendali atas jalur air tersebut, yang menjadi titik pengaruh utama dalam setiap pembicaraan dengan AS terkait perang. Oktober tercatat sebagai bulan dengan serangan terbanyak terhadap pelayaran komersial sejak Maret, menurut pemantau militer Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO).
Meskipun demikian, para ahli menyebutkan bahwa produsen minyak telah menemukan cara untuk menjaga aliran minyak mentah tetap berjalan, meski dengan biaya yang terus meningkat. Kapal tanker masih mengangkut minyak melalui selat di bawah perlindungan militer AS, menurut data pelayaran dan perusahaan analisis Lloyd’s List Intelligence.
Di dalam negeri AS, isu Iran juga merambah ke panggung politik lokal. Dalam debat kongres yang berlangsung sengit di Stockton University, anggota kongres petahana dari Partai Republik Jeff Van Drew dan penantang dari Partai Demokrat Zack Mullock saling serang terkait ekonomi, imigrasi, dan perang di Iran. Debat yang berlangsung panas itu bahkan beberapa kali harus dihentikan sementara oleh moderator.
Van Drew, yang mencalonkan diri untuk masa jabatan kelima di Distrik Kongres ke-2 New Jersey, menyoroti kebijakan energi sebagai faktor tingginya harga bensin. “Kita belum membangun kilang yang kita butuhkan. Kita seharusnya tidak lagi bergantung pada Timur Tengah dan negara-negara lain,” ujarnya. Sementara Mullock, Wali Kota Cape May, menuduh kebijakan lawannya merugikan para petani di Cumberland County dan Salem County.
Survei AP-NORC terbaru menunjukkan bahwa sekitar 8 dari 10 pemilih terdaftar, termasuk mayoritas besar dari Partai Republik dan Demokrat, menginginkan Kongres berikutnya untuk fokus menurunkan biaya hidup dan mengakhiri perang di Iran. Hanya sedikit yang menginginkan penekanan pada Presiden Trump, baik untuk menyelidikinya maupun mendukung agendanya.
Dengan pemilihan Israel yang tinggal beberapa hari lagi dan pemilihan sela AS bulan depan, kekhawatiran bahwa serangan AS-Israel terhadap Iran dapat kembali terjadi semakin menguat. Danny Citrinowicz, peneliti di Institute for National Security Studies Israel dan mantan spesialis Iran di militer serta badan intelijen Israel, menilai kemenangan jelas Netanyahu pada pemilu 27 Oktober berarti serangan hampir pasti terjadi. Ia pun memperingatkan bahwa kawasan sedang menuju “eskalasi kinetik lainnya”.
Kesimpulannya, situasi di sekitar Iran kini berada di titik kritis. Penarikan pasukan AS, ancaman serangan militer besar, dan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz menciptakan kombinasi berbahaya yang dapat memicu konflik lebih luas. Di saat yang sama, tekanan publik di dalam negeri AS untuk mengakhiri perang dan menurunkan biaya hidup semakin kuat, menjadikan kebijakan terhadap Iran sebagai salah satu isu paling menentukan dalam peta politik mendatang.
