El Niño Mengguncang Dunia: Petani Telangana Terancam, Air Terjun Iguazú Ditutup
Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Fenomena iklim el niño kembali menunjukkan kekuatannya yang dahsyat, memicu kekacauan di berbagai belahan dunia. Dari lahan pertanian di India hingga air terjun ikonik di Argentina, dampak el niño terasa nyata dan memaksa otoritas serta masyarakat untuk mengambil tindakan darurat. Para ilmuwan global telah memperingatkan selama berbulan-bulan bahwa el niño tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam sejarah, dan peringatan itu kini terbukti.
Di Telangana, India, Partai Bharat Rashtra Samithi (BRS) melancarkan kritik tajam terhadap pemerintah Kongres. Wakil pemimpin BRS, T Harish Rao, menuduh pemerintah gagal mempersiapkan diri menghadapi risiko el niño dan meningkatnya kesulitan pertanian. Dalam konferensi pers di Telangana Bhavan, Hyderabad, ia menuntut rencana aksi segera untuk melindungi petani, buruh tani, dan tanaman yang masih berdiri dari kekeringan, pemadaman listrik, serta kekurangan air.
Harish Rao mempertanyakan penanganan pemerintah terhadap konferensi video dengan petani yang dijadwalkan pada Senin. Pertemuan itu berulang kali dibatalkan setelah pejabat meminta petani berkumpul di Rythu Vedikas. Ia menilai ketidakhadiran Kepala Menteri dan jadwal yang berubah-ubah menunjukkan kurangnya keseriusan pemerintah terhadap krisis ini. “Pemerintah tampaknya tidak serius melindungi tanaman dan mata pencaharian petani. Kepala Menteri dan para menteri membatalkan rapat kabinet yang diusulkan tentang krisis el niño untuk menyusun rencana aksi kontingensi dan malah bergegas ke Delhi. Apa yang lebih penting dari petani di negara bagian ini?” tanyanya.
BRS menuntut kejelasan tentang dukungan mata pencaharian alternatif bagi petani dan buruh tani, serta pencairan dana Rythu Bharosa untuk musim Yasangi (Rabi) mendatang jika petani diminta tidak menanam. Mereka juga mempertanyakan apakah pemerintah siap memberikan bonus Rp500 per kuintal untuk padi musim ini dan bantuan keuangan tambahan bagi petani yang kesulitan. Selain itu, keterlambatan implementasi Indiramma Atmeeya Bharosa untuk keluarga miskin yang memenuhi syarat juga dipersoalkan.
Harish Rao menuduh pemerintah Kongres memaksa petani dan buruh tani bermigrasi karena gagal mengangkat air sungai dan memastikan pasokan yang memadai untuk irigasi, air minum, dan kebutuhan industri. Ia mempertanyakan mengapa proyek irigasi seperti Devadula, Kannepalli, dan Kalwakurthy tidak dimanfaatkan sepenuhnya meskipun air tersedia. Mantan Menteri Irigasi itu juga menuding pasokan batu bara yang tidak memadai dan kegagalan menandatangani perjanjian pembelian listrik menyebabkan kekurangan listrik, membuat petani mengalami pasokan listrik yang tidak stabil dan tanaman mengering.
Sementara itu, di Argentina, dampak el niño memaksa penutupan salah satu keajaiban alam paling terkenal di dunia. Air Terjun Iguazú di Provinsi Misiones ditutup untuk umum pada Senin setelah debit air Sungai Iguazú melonjak melewati 12.000 meter kubik per detik, lebih dari enam kali rata-rata normalnya. Otoritas Taman Nasional Iguazú dan perusahaan konsesi Iguazú Argentina SA memberlakukan pembatasan sementara untuk pergerakan orang dan akses ke area publik.
Direktur taman, José María Hervás, menyatakan penutupan ini sebagai tindakan pencegahan karena “hujan terus turun” dan volume air yang dilepaskan dari bendungan di hulu Sungai Iguazú tidak menurun. Taman ini sebelumnya pernah ditutup karena banjir pada 2023 dan 2024 selama episode el niño lainnya yang menghancurkan jalan setapak di bagian ‘Garganta del Diablo’ (Kerongkongan Iblis). Pada Agustus lalu, otoritas taman menutup bagian itu dan melepas jalan setapak sebagai tindakan pencegahan, mengantisipasi peristiwa cuaca serupa atau bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Peringatan juga dikeluarkan terkait naiknya permukaan air di sungai Paraná dan Uruguay di tengah prakiraan hujan lebih lanjut yang terkait dengan fenomena el niño. Meteorolog di seluruh dunia telah memperingatkan bahwa fenomena el niño saat ini bisa menjadi yang terkuat yang pernah tercatat. Dampaknya tidak hanya terasa di Amerika Selatan dan Asia, tetapi juga berpotensi mempengaruhi pola cuaca global, termasuk musim hujan dan kemarau di berbagai negara.
Krisis yang dipicu oleh el niño ini menyoroti kerentanan sistem pertanian dan infrastruktur terhadap perubahan iklim. Di Telangana, petani menghadapi ketidakpastian panen dan tekanan ekonomi, sementara di Argentina, sektor pariwisata harus menelan kerugian akibat penutupan sementara. Pemerintah di berbagai negara dituntut untuk tidak hanya bereaksi cepat, tetapi juga merancang strategi jangka panjang untuk mitigasi dan adaptasi terhadap el niño yang semakin sering dan intens.
Dengan peringatan para ahli bahwa el niño dapat menjadi yang terkuat dalam sejarah, dunia harus bersiap menghadapi konsekuensi yang lebih luas. Koordinasi lintas negara, investasi dalam infrastruktur tahan iklim, dan perlindungan bagi kelompok rentan seperti petani dan buruh tani menjadi kunci. Tanpa tindakan segera, el niño akan terus meninggalkan jejak kerusakan yang sulit dipulihkan.
