Masoud Pezeshkian Menangi Pilpres Iran, Akui Berkeinginan Miliki Hubungan Baik Dengan Barat

- Minggu, 7 Juli 2024 | 12:26 WIB
Tokoh reformis sekaligus dokter bedah jantung Masoud Pezeshkian memenangkan Pilpres Iran. (Instagram @TimesNow)
Tokoh reformis sekaligus dokter bedah jantung Masoud Pezeshkian memenangkan Pilpres Iran. (Instagram @TimesNow)

KALIMANTAN UPDATE - Masoud Pezeshkian memenangi Pemilu Presiden (Pilpres) Iran. Dibanding pemimpin-pemimpin Iran sebelumnya, Pezeshkian dinilai miliki cukup banyak perbedaan.

Salah satunya dia dikenal sebagai politikus reformis yang tidak segan-segan berkeinginan memperbaiki hubungan dengan kubu negara-negara Barat.

Dilansir AFP, Senin (7/7/2024), Pezeshkian memenangi Pilpres melawan tokoh ultrakonservatif Saeed Jalili. Kabar pilpres tersebut disampaikan kementerian dalam negeri Iran pada Sabtu (6/7) waktu setempat.

Baca Juga: Israel Bantah Tudingan Keterlibatan Kecelakaan Helikopter Menewaskan Presiden Iran Ebrahim Rais dan Menlu Hossein Amir Abdollahian

Juru bicara Uni Eropa Nabila Massrali mengucapkan selamat kepada Pezeshkian atas terpilihnya dia, dan menambahkan bahwa blok beranggotakan 27 negara itu "siap untuk terlibat dengan pemerintahan baru sejalan dengan kebijakan keterlibatan kritis Uni Eropa".

Pezeshkian adalah seorang ahli bedah jantung berusia 69 tahun. Satu-satunya pengalaman pemerintahannya adalah menjadi menteri kesehatan sekitar dua dekade lalu.

Dia menyerukan "hubungan konstruktif" dengan negara-negara Barat untuk "mengeluarkan Iran dari isolasinya". Dia mendukung menghidupkan kembali perjanjian nuklir tahun 2015 antara Iran dan negara-negara besar.

Baca Juga: Rentetan Hal yang perlu Diketahui Terkait Kecelakaan Helikopter Menewaskan Presiden Iran Ebrahim Raisi

Washington secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut pada tahun 2018, menerapkan kembali sanksi dan menyebabkan Iran secara bertahap mengurangi komitmen terhadap perjanjian tersebut. Kesepakatan itu bertujuan untuk mengekang aktivitas nuklir, yang menurut Teheran bertujuan damai.

Musuh Iran, Amerika Serikat, pada Senin mengatakan tidak ada bedanya apakah Pezeshkian atau Jalili yang menang.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Vedant Patel, mengatakan tidak ada harapan bahwa pemungutan suara tersebut akan "mengarah pada perubahan mendasar dalam arah Iran" atau peningkatan hak asasi manusia.

Baca Juga: Peramal Asal India Mendadak Ubah Jadwal Perang Dunia III dan Kiamat, Semula 29 Juni Kini Jadi 10 Agustus 2024

Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, mengatakan hasil Pilpres Iran tersebut merupakan "pesan yang jelas mengenai tuntutan perubahan dan pertentangan" dari rakyat Iran.

Katz mendesak komunitas global untuk menunjuk Korps Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris dan menuntut "pembatalan" program nuklir Iran.

Dalam Pilpres Iran, semua capres yang maju telah terlebih dahulu disetujui oleh Dewan Wali Iran, dan Pezeshkian adalah satu-satunya reformis yang diizinkan untuk mencalonkan diri.

Halaman:

Editor: Syaifullah

Sumber: Detiknews

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X