KALIMANTAN UPDATE - Berdasarkan Pew Research Center melakukan survei di 34 negara terkait tingkat religiusitas bangsa-bangsa di dunia pada tahun 2020 lalu, dari survei bertajuk “The Global God Divide” itu, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara paling religius dengan angka 96 persen.
Sementara Survei majalah CEO World bekerja sama dengan in Global Business Policy Institute 2020 lalu juga mencatat Indonesia masuk dalam negara yang 98,7 persen penduduknya merasa religius. Hasil ini menjadikan Indonesia sebagai 10 besar negara paling religius, dan ada di peringkat pertama untuk Asia Tenggara.
Namun hasil ini tidak sebanding dengan laporan Transparency International Indonesia dalam laporan indeks persepsi korupsi (IPK) Januari lalu yang menyatakan Indonesia di peringkat 96 dari 180 negara. Skor Indonesia 38, masih di bawah rata rata IPK global yaitu 43.
Baca Juga: 10 Daftar Instansi/Lembaga Sering Korupsi Besar di Indonesia
Ajaran agama yang mengajarkan pedoman hidup bukan hanya kepada Tuhan namun juga kepada sesama manusia, sering kali tidak sinkron dengan realitas di masyarakat.
Menurut Mustain Mashud Dosen Sosiologi FISIP Unair, kondisi di mana praktik kehidupan sehari-hari tidak seiring dengan apa yang diajarkan dalam agama dapat memunculkan dualisme.
“Kehidupan banyak yang kurang sejalan dengan nilai agama, ini yang membuat frustasi. Kesadaran pentingnya beragama tidak diimbangi pemahaman situasi di lapangan bisa menimbulkan intoleransi, radikalisme bahkan gerakan yang keras. Kesadaran beragama sebaiknya diikuti dengan kesadaran membangun kehidupan berkualitas sesuai agama,” ujar Mustain dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya, Rabu (8/6/2022).
Baca Juga: Deretan Koruptor Termuda di Indonesia, Sang Juara Dipegang Nur Afifah Balqis
Tingginya angka korupsi yang menempatkan Indonesia tidak di posisi terendah dalam peringkat dunia, dinilai Mustain, karena agama hanya menjadi pelengkap, bukan pedoman kehidupan.
“Tindakan beragama dianggap biasa, kebutuhan untuk kehidupan lebih baik menjadi kebutuhan dasar. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari membuat orang lupa bahkan mengabaikan agama,” terangnya.
Agar ke depannya hal ini tidak terus-terusan terjadi, pihaknya mendukung agar agama dilembagakan secara resmi dan diorganisasi serta mempunyai visi dan misi serta program.***
Artikel Terkait
Cucu Sri Sultan Hamengkubuwono X Marrel Resmi Bergabung Partai Gerindra
Aksi Demonstran Kawal Putusan MK Berakhir Ricuh, Puluhan Mahasiswa dan Pelajar serta Anggota Polisi Ada Alami Luka
Aksi Sejumlah WNA Sewa Vila di Bali Buat Dijadikan Sekolahan
Beda Tanggapan Dengan Humas Polri Polrestabes Surabaya dan Korlantas, Kompolnas Kritik Cara Pendekatan Polisi ke Warga Tak Pahami Timing
Oknum ASN Diduga Lecehkan Nabi Dengan Sebutan Germo
Usai Lecehkan Pegawai Wanita Pertashop Tanpa Perlawanan, Pelaku Pria Berhasil Diringkus Polisi
Rekam Jejak Media Sosial Ayu Arianti Beredar di Platform X, Usai Gagal Caleg DPR RI Dapil Jabar 2024
Golkar Mendadak Usung Kembali Airin di Pilkada Banten 2024, Berpasangan Dengan Ade Sumardi
Beda Haluan Dengan Golkar, Demokrat Tetap Konsisten Andra Soni dan Dimyati Natakusumah di Pilkada Banten 2024
Tak Tahan Diberitakan Hamil Duluan Sebelum Nikah, Aaliyah Massaid Laporkan Sejumlah Akun Penyebar ke Polisi
Imbas Aksi Demonstran di Semarang, Tagar Polisi Brutal Jadi Trending Topic di Platform X
Diduga Tak Kuat Tahan Kepergian Sang Anak, Ayah Aulia Risma Sempat Jatuh Sakit dan Meninggal Dunia
Black Myth Wukong Pecahkan Rekor, Membuka Era Baru Bagi Game China
Prabowo Sambangi Markas Besar Nasdem Jelang Penutupan Kongres ke 3, Surya Paloh: Bapak Presiden Terpilih Gak Usah Memikirkan Kami Dapat Kursi Berapa