Indonesia Tempati Posisi Tertinggi Sebagai Negara Religius di Dunia, Diikuti Tingkat Korupsi Kian Meningkat?

- Rabu, 28 Agustus 2024 | 11:24 WIB
Ilustrasi Korupsi
Ilustrasi Korupsi

KALIMANTAN UPDATE - Berdasarkan Pew Research Center melakukan survei di 34 negara terkait tingkat religiusitas bangsa-bangsa di dunia pada tahun 2020 lalu, dari survei bertajuk “The Global God Divide” itu, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara paling religius dengan angka 96 persen.

Sementara Survei majalah CEO World bekerja sama dengan in Global Business Policy Institute 2020 lalu juga mencatat Indonesia masuk dalam negara yang 98,7 persen penduduknya merasa religius. Hasil ini menjadikan Indonesia sebagai 10 besar negara paling religius, dan ada di peringkat pertama untuk Asia Tenggara.

Namun hasil ini tidak sebanding dengan laporan Transparency International Indonesia dalam laporan indeks persepsi korupsi (IPK) Januari lalu yang menyatakan Indonesia di peringkat 96 dari 180 negara. Skor Indonesia 38, masih di bawah rata rata IPK global yaitu 43.

Baca Juga: 10 Daftar Instansi/Lembaga Sering Korupsi Besar di Indonesia

Ajaran agama yang mengajarkan pedoman hidup bukan hanya kepada Tuhan namun juga kepada sesama manusia, sering kali tidak sinkron dengan realitas di masyarakat.

Menurut Mustain Mashud Dosen Sosiologi FISIP Unair, kondisi di mana praktik kehidupan sehari-hari tidak seiring dengan apa yang diajarkan dalam agama dapat memunculkan dualisme.

“Kehidupan banyak yang kurang sejalan dengan nilai agama, ini yang membuat frustasi. Kesadaran pentingnya beragama tidak diimbangi pemahaman situasi di lapangan bisa menimbulkan intoleransi, radikalisme bahkan gerakan yang keras. Kesadaran beragama sebaiknya diikuti dengan kesadaran membangun kehidupan berkualitas sesuai agama,” ujar Mustain dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya, Rabu (8/6/2022).

Baca Juga: Deretan Koruptor Termuda di Indonesia, Sang Juara Dipegang Nur Afifah Balqis

Tingginya angka korupsi yang menempatkan Indonesia tidak di posisi terendah dalam peringkat dunia, dinilai Mustain, karena agama hanya menjadi pelengkap, bukan pedoman kehidupan.

“Tindakan beragama dianggap biasa, kebutuhan untuk kehidupan lebih baik menjadi kebutuhan dasar. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari membuat orang lupa bahkan mengabaikan agama,” terangnya.

Agar ke depannya hal ini tidak terus-terusan terjadi, pihaknya mendukung agar agama dilembagakan secara resmi dan diorganisasi serta mempunyai visi dan misi serta program.***

 

Editor: Syaifullah

Sumber: Suarasurabaya.net

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X