Jepang Kuasai Panggung Dunia: Dari Misi Ambisius ke Phobos hingga Gebrakan Budaya dan Kuliner Musim Gugur
Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | Jepang kembali mencuri perhatian dunia lewat sederet langkah besar yang mencerminkan ambisi dan kekayaan budayanya. Di kancah antariksa, negara matahari terbit itu bersiap meluncurkan misi bersejarah untuk mengambil sampel dari Phobos, salah satu bulan planet Mars, dan membawanya kembali ke Bumi. Langkah ini menegaskan posisi Jepang sebagai salah satu kekuatan utama dalam eksplorasi luar angkasa global.
Misi yang dinamai Martian Moons eXploration (MMX) tersebut dijadwalkan meluncur pada Selasa mendatang dari Prefektur Kagoshima, Jepang barat daya. Roket H3 dari Pusat Antariksa Tanegashima akan menjadi kendaraan peluncurannya. MMX dirancang menjadi yang pertama di dunia dalam pengambilan sampel dari permukaan Phobos, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih negara mana pun sebelumnya.
Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) memimpin pengembangan misi yang terdiri atas tiga modul tersebut. Total biaya pengembangan MMX mencapai 55,3 miliar yen atau hampir 350 juta dolar Amerika Serikat. Modul eksplorasi dilengkapi peralatan pengambilan sampel, berbagai instrumen observasi, serta dua kamera berdefinisi sangat tinggi untuk memetakan permukaan bulan Mars itu secara detail.
Perjalanan MMX diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun untuk mencapai kawasan sekitar Mars setelah peluncuran. Setibanya di sana, wahana akan melakukan pengamatan intensif selama tiga tahun sebelum modul pengembalian membawa sampel ke Bumi pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2032. Misi ini menjadi bukti nyata komitmen Jepang dalam memecahkan misteri asal-usul tata surya.
Tak hanya di dunia antariksa, pengaruh Jepang juga terasa kuat di industri hiburan. Kolaborasi antara Jepang dan Korea Selatan dalam memproduksi serial televisi telah menjadi fenomena yang diminati penonton global. Sejak era awal 2000-an, ketika Won Bin beradu akting dengan Kyoko Fukada dalam serial berjudul Friends, kerja sama lintas budaya ini terus berkembang.
Salah satu serial yang mencuri perhatian adalah Eye Love You yang tayang pada awal 2024. Kisahnya mengikuti Yuri Motomiya, seorang perempuan berusia 30 tahun yang tiba-tiba memiliki kemampuan telepati akibat sebuah kecelakaan. Kemampuannya itu justru membuatnya menutup diri hingga bertemu Yoon Tae O, mahasiswa asal Korea Selatan yang tengah berkuliah di Jepang. Ketika membaca pikiran Tae O yang berbahasa Korea, Yuri merasa aman karena tak memahami bahasanya, membuka jalan cerita cinta lintas budaya yang mengharukan.
Di sisi lain, drama bertema sejarah turut menghadirkan sisi kelam era pendudukan Jepang. Serial 100 Days of Deception menggambarkan penderitaan penduduk Joseon di bawah kekuasaan tentara Jepang dengan sangat nyata. Suara derap sepatu tentara Jepang menjadi mimpi buruk bagi warga yang hanya menginginkan hidup damai. Dua episode awal drama ini berhasil membangun suasana kelam tersebut, memperlihatkan betapa beratnya kehidupan rakyat saat itu ketika setiap langkah keluar rumah disuguhi tindakan kejam yang tidak manusiawi.
Sementara itu, bagi para pelancong, musim gugur di Jepang menawarkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan. Cuaca sejuk dan pemandangan dedaunan berwarna kuning, oranye, dan merah menjadi latar sempurna untuk menikmati hasil panen melimpah. Masyarakat Jepang menyebutnya shokuyoku no aki atau musim gugur yang penuh selera.
Jamur matsutake menjadi simbol kelezatan musim ini. Dijuluki Raja Makanan Musim Gugur karena aroma harumnya yang khas seperti pohon pinus, jamur ini tumbuh liar di hutan pinus merah dan tak bisa dibudidayakan, sehingga harganya sangat mahal. Selain itu, ikan sanma atau saury juga menjadi hidangan favorit yang biasa disajikan dengan cara dipanggang.
Di dunia olahraga, nama pelatih timnas Jepang Hajime Moriyasu menjadi incaran Federasi Sepakbola Malaysia (FAM). Moriyasu telah menangani Samurai Biru sejak 2018 dengan kontrak hingga akhir Februari 2027. Rekam jejaknya membawa Jepang dua kali tampil di Piala Dunia dan menjadikannya pelatih asal Asia dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia, yakni delapan kali. Di bawah asuhannya, Jepang konsisten berada di 20 besar ranking FIFA. Malaysia sendiri masih ditangani pelatih interim Tan Cheng Hoe dan belum mengajukan tawaran resmi, menunggu kontrak Moriyasu berakhir.
Dari eksplorasi luar angkasa hingga industri hiburan, kuliner, dan sepak bola, Jepang terus menunjukkan pengaruhnya di berbagai bidang. Misi MMX menegaskan ambisi teknologi Jepang untuk mengungkap rahasia alam semesta, sementara kekayaan budaya dan kulinernya terus memikat dunia. Bagi Indonesia, sederet capaian ini menjadi cermin betapa seriusnya Jepang membangun reputasi sebagai negara maju yang berdaya saing global. Ke depan, publik Tanah Air patut mencermati langkah Jepang dalam memimpin eksplorasi antariksa, sekaligus mengambil pelajaran dari disiplin dan inovasi yang mereka terapkan di sektor-sektor lain.
