Presiden Prabowo Tekankan Riset Strategis: Antisipasi Karhutla, Energi Sawit, hingga Percepatan Vaksin Malaria
Kalimantan Update – 29 Oktober 2026 | Jakarta — Langkah strategis pemerintah dalam memperkuat basis ilmu pengetahuan kembali ditegaskan. Dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Dorong Riset untuk Atasi Karhutla Kembangkan Energi dan Percepat Vaksin menjadi arahan utama yang disampaikan kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria pada Selasa (27/10/2026). Arahan tersebut menegaskan bahwa hasil riset nasional tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto terus memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara intensif. Menurutnya, kepala negara menekankan pentingnya pendekatan riset berlapis, mulai dari jangka pendek, menengah, hingga panjang, agar persoalan karhutla dapat dipecahkan secara menyeluruh dan tidak berulang setiap tahun.
Model Perambatan Api Jadi Fokus Riset Jangka Panjang
Dalam laporan yang disampaikan kepada Presiden, BRIN memaparkan sejumlah capaian dan rencana riset strategis. Untuk penanganan karhutla, BRIN telah berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta TNI Angkatan Udara. Kolaborasi ini diwujudkan melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk penggunaan dry ice untuk memicu hujan buatan di wilayah rawan kebakaran.
“Bapak Presiden terus memantau karhutla dan terus menekankan betapa pentingnya hasil riset untuk memecahkan masalah karhutla baik jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang,” ujar Arif Satria.
Selain upaya penanganan cepat, BRIN mengembangkan riset jangka menengah dan panjang, salah satunya pemodelan perambatan api. Melalui model ini, pemerintah diharapkan mampu memprediksi arah dan kecepatan penyebaran api sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih dini. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari komitmen Presiden Dorong Riset untuk Atasi Karhutla Kembangkan Energi dan Percepat Vaksin yang menempatkan sains sebagai fondasi kebijakan.
Limbah Sawit Berpotensi Jadi Sumber Energi Baru
Di sektor energi, BRIN melaporkan potensi besar pemanfaatan limbah kelapa sawit. Limbah cair pengolahan sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) serta tandan kosong sawit dapat dikonversi menjadi biogas dan energi listrik dengan kapasitas sekitar 3,9 gigawatt. Potensi ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.
“Saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih 97 triliun per tahun. Dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” jelas Arif.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Dorong Riset untuk Atasi Karhutla Kembangkan Energi dan Percepat Vaksin yang menekankan diversifikasi energi berbasis sumber daya lokal. Pemanfaatan limbah sawit tidak hanya menjawab persoalan energi, tetapi juga mengurangi beban lingkungan dari limbah industri.
Percepatan Riset Vaksin Malaria dan Obat Herbal
Pada bidang kesehatan, BRIN tengah mengembangkan empat kandidat vaksin malaria. Presiden Prabowo menginstruksikan agar proses riset dipercepat, dengan harapan pengembangan vaksin dapat selesai tiga tahun lebih cepat dari jadwal semestinya. Dukungan penuh pemerintah diyakini akan mempercepat produksi vaksin, khususnya vaksin malaria.
“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Kita berharap dengan dukungan beliau, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya,” tutur Arif.
Pengembangan vaksin malaria juga berpotensi menjadi kontribusi Indonesia bagi dunia, terutama untuk mengatasi parasit Plasmodium vivax yang hingga kini belum memiliki vaksin. Selain vaksin, BRIN mengembangkan 19 kandidat obat herbal yang diarahkan menuju status fitofarmaka, naik dari tahap Obat Herbal Terstandarisasi (OHT), guna memperkuat kemandirian obat nasional.
Teknologi Sampah hingga Gerakan ASRI
Persoalan sampah juga menjadi perhatian Presiden. Kepala negara mendorong percepatan penerapan teknologi hasil riset agar langsung dimanfaatkan masyarakat. BRIN akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memberdayakan perguruan tinggi dalam membantu penanganan sampah di desa-desa.
“Bapak Presiden mengarahkan bagaimana teknologi level rumah tangga dan level desa segera diimplementasikan. BRIN hanya membuat prototipe, tetapi kami ingin memastikan prototipe itu membawa manfaat dan bisa digunakan masyarakat,” ujarnya.
Penerapan hasil riset tersebut diharapkan mendukung gerakan ASRI yang dicanangkan Presiden Prabowo, sekaligus memastikan inovasi nasional memberikan manfaat nyata. Dengan demikian, arah kebijakan Presiden Dorong Riset untuk Atasi Karhutla Kembangkan Energi dan Percepat Vaksin semakin menegaskan posisi riset sebagai motor pembangunan.
Kesimpulan
Dari hutan yang harus diselamatkan, limbah yang diubah menjadi energi, hingga vaksin yang harus segera dihasilkan, pemerintah menempatkan riset sebagai jalan utama untuk menjawab tantangan bangsa. Arahan Presiden Dorong Riset untuk Atasi Karhutla Kembangkan Energi dan Percepat Vaksin menunjukkan bahwa inovasi tidak boleh berhenti pada prototype, melainkan harus turun ke lapangan dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dengan percepatan riset, kolaborasi lintas lembaga, dan dukungan penuh kepala negara, hasil riset Indonesia diharapkan semakin cepat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Penulis: Syaifullah
Editor: Rudi Hamdani
Sumber Berita: BPMI Setpres / Updatekaltim.com
