Membara di Dua Kota Suci: Serangan Houthi ke Arab Saudi Guncang Pasar Minyak Dunia
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Gelombang serangan houthi ke arab saudi kembali memanas dalam beberapa hari terakhir, dengan kelompok milisi yang didukung Iran itu mengklaim telah melancarkan rangkaian operasi militer terhadap sejumlah target vital di Kerajaan. Eskalasi ini tidak hanya mengguncang keamanan kawasan, tetapi juga langsung berdampak pada pergerakan harga minyak mentah dunia yang sempat bergejolak.
Kelompok Houthi mengklaim telah melakukan “enam operasi militer kualitatif” dalam kurun 48 jam terakhir. Aksi tersebut disebut sebagai balasan atas lebih dari dua ratus serangan udara dan rudal yang dilancarkan koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap fasilitas sipil di Sanaa, Yaman. Sasaran yang diklaim diserang antara lain fasilitas Saudi Aramco di kota pelabuhan Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta Bandara Abha.
Dampak dari serangan houthi ke arab saudi ini terasa nyata pada sektor penerbangan. Bandara Internasional King Khalid, bandara utama di ibu kota Riyadh, ditutup sejak 10 Oktober lalu menyusul serangan paling dahsyat dalam lebih dari satu dekade yang menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Penutupan bandara dan gangguan penerbangan di seluruh Riyadh memaksa para pelancong mencari rute alternatif untuk masuk ke negara itu, sehingga meningkatkan biaya logistik secara signifikan.
Otoritas bandara sempat mengeluarkan notis kepada pilot (NOTAM) yang menetapkan operasi kembali dibuka pada tengah malam waktu setempat, dengan catatan tunduk pada peninjauan lanjutan. Namun, Direktur Utama firma konsultasi penerbangan asal Swiss, Aviation Advocacy, Andrew Charlton, menilai NOTAM tersebut dapat dengan mudah diperpanjang. Menurutnya, keselamatan publik harus diutamakan mengingat serangan houthi ke arab saudi yang terus berlanjut terhadap bandara sipil di berbagai wilayah. Juru bicara militer koalisi pimpinan Saudi bahkan mendakwa Houthi telah melancarkan sedikitnya 20 serangan ke Bandara Riyadh sejak awal Oktober, dengan korban tewas dilaporkan mencapai 20 orang.
Di pasar energi global, harga minyak sempat mengurangi penurunannya setelah Houthi mengklaim serangan terhadap infrastruktur energi dan bandara. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Desember turun tipis 0,1 persen menjadi 109,44 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,1 persen menjadi 98,45 dolar AS per barel. Sebelumnya, pasar sempat optimistis setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah pencabutan sebagian besar sanksi dan tarif terkait ekspor energi Rusia.
Kekhawatiran pasokan muncul karena pertempuran sengit antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengancam kelancaran arus minyak di Selat Bab el-Mandeb. Situasi ini diperparah oleh meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz yang turut membebani sentimen pasar.
Di sisi diplomatik, Arab Saudi menuduh Iran selama ini memasok senjata, melatih, serta mendukung milisi Houthi yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi bidang Diplomasi Publik, Rayed Krimly, menilai eskalasi terbaru didorong oleh Teheran. Tuduhan serupa juga dilontarkan mantan pejabat Israel, Danny Citrinowicz, yang menyebut Iran menyediakan informasi intelijen soal target vital, termasuk bandara dan fasilitas minyak.
Iran membantah seluruh tuduhan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baghaei, menegaskan Houthi adalah aktor yang sepenuhnya independen. Meski demikian, Korps Garda Revolusi Iran justru memuji peningkatan serangan houthi ke arab saudi, sehingga memunculkan dugaan keterlibatan Teheran.
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal, mengecam keras aksi milisi tersebut yang disebutnya sampai menargetkan Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Menurutnya, tindakan itu melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan mengancam keamanan pelabuhan udara, pelabuhan laut, serta perdagangan internasional di kawasan Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah.
Riyadh mencatat telah menyalurkan bantuan kemanusiaan dan pembangunan ekonomi kepada rakyat Yaman senilai 12,6 miliar dolar AS pada periode 2012-2026. Arab Saudi juga mengajak delegasi Houthi berunding di Muscat, Oman, namun tawaran itu ditolak. Hingga kini, serangan houthi ke arab saudi terus berlanjut, dan juru bicara Houthi, Yahya Saree, menegaskan pihaknya akan terus menggempur wilayah Kerajaan.
Dari rangkaian peristiwa ini, jelas bahwa eskalasi serangan houthi ke arab saudi bukan sekadar konflik bilateral, melainkan persoalan yang menyentuh keamanan energi global, stabilitas jalur perdagangan, serta sensitivitas religius bagi umat Islam dunia. Dunia internasional pun dituntut mengambil langkah tegas untuk mencegah konflik meluas yang berpotensi mengganggu rantai pasok global, ketahanan pangan, dan keamanan energi.
