KALIMANTAN UPDATE - Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang terus memberikan dukungan atas aksi keji Israel di kamp pengungsi Rafah mendorong para pejabat AS untuk menggelar resign atau pengunduran diri masal.
Terbaru ada Alexander Smith, pejabat pemerintahan yang bekerja sebagai pejabat senior di lembaga bantuan internasional AS, USAID.
Dalam laporannya ia menegaskan bahwa telah mengundurkan diri usai mendapatkan perintah untuk menyiapkan makalah palsu tentang kematian anak dan ibu di Palestina.
“Saya tidak dapat melakukan pekerjaan saya di lingkungan di mana orang-orang tertentu tidak dapat diakui sebagai manusia seutuhnya. Di Ukraina, kami menyerukan ganti rugi hukum ketika ada orang yang menjadi korban, dan menyebutkan nama pelaku kekerasan,” ujar Smith, dikutip Middle East Monitor.
“Namun ketika menyangkut rakyat Palestina, kami menghindari untuk mengatakan apapun tentang hak mereka untuk bernegara, pelanggaran yang mereka derita saat ini, atau negara-negara mana yang telah melanggar hak-hak dasar mereka atas kebebasan, menentukan nasib sendiri, penghidupan, dan air bersih,” imbuhnya.
Pengunduran diri ini bukan kali pertama yang terjadi di biro pemerintahan AS, selama beberapa bulan terakhir para pejabat AS kompak menggelar resign massal.
Pada awal pekan ini Stacy Gilbert, pejabat senior di Biro Kependudukan, Pengungsi dan Migrasi Departemen Luar Negeri AS, mengumumkan resign, lantaran muak dengan kebijakan dan tindakan Biden yang cenderung pro-Israel.
Bahkan pemerintahan Biden menyimpulkan awal bulan ini Israel tidak menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, berbanding terbalik dengan fakta yang sebenarnya.
Hal senada juga dilakukan Josh Paul, mantan direktur urusan kongres dan publik di Biro Urusan Politik-Militer. Pada Oktober lalu ia secara terbuka menyatakan undur diri usai muak dengan sikap Joe Biden yang terus mendukung Israel.
Baca Juga: Konflik Sipil Tak Terhentikan Sebabkan Banyak Anak Banyak Kehilangan Hingga Alami Trauma Psikis
Kemudian ada ily Greenberg Call. Ia merupakan asisten khusus kepala staf di Kementerian Dalam Negeri AS. Dikutip dari Guardian, Call menuduh Joe Biden menggunakan orang Yahudi untuk membenarkan kebijakan AS dalam konflik tersebut.
“Dulu saat bergabung dengan pemerintahan saya yakini memiliki visi yang sama dengan negaranya. Namun, dengan hati nurani saya tidak dapat lagi mewakili pemerintahan ini,” tulis Call.
Artikel Terkait
Bahas Isu Keamanan Global dan Pertahanan, Prabowo Bakal Hadiri Shangri La Dialogue 2024 di Singapura
Daftar Hari Penting Nasional dan Internasional Juni 2024, Beserta Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Daftar Film Indonesia dan Barat Tayang di Bioskop Indonesia Juni 2024, Disertai Drama Korea Terbaru
Tanggalan Jawa Juni 2024 Terbaru, Dilengkapi Weton Pasaran Hingga Wuku
Kalender Hijriah Islam Juni 2024: Catat Tanggal Penting Hingga Puasa Sunnah Lainnya
Menhan RI Prabowo Tiba di Singapura Hadiri Forum IISS Shangri La Dialogue 2024
Dianggap Kasus Selesai, Polri Ungkap Anggota Densus 88 yang Menguntit Kejagung Tak Melanggar Etika
Usai Viral Dirinya Kejar Sejumlah Orang Sambil Bawa Parang, Bupati Halmahera Utara Beri Klarifikasi
Viral Video Wanita Lakukan Pelecehan Seksual ke Bocah, Diduga Anaknya Hingga Adiknya
Poster Bertulisan All Eyes on Papua Jadi Tren di Platform X?
Bantai Dortmund 0-2 Tanpa Balas, Real Madrid Torehkan Pemenang Liga Champions 2023 2024
Beda Pandangan MUI dan Kemenag Terkait Mengucapkan Salam Lintas Agama
Viral Muncul Tikus Dalam Etalase Produk Dough Lab di PIK Avenue, Kini Toko Tutup Sementara
Disebut Ada yang Palsu Beredar di Masyarakat Buntut Isu Korupsi 109 Ton Emas Antam, Pihak PT Aneka Tambang Tbk Buka Suara