Pembubaran Dwitunggal: Mundurnya Hatta, Munculnya Demokrasi Terpimpin Oleh Soekarno Hingga Ketidakstabilan Politik dan Sosial di Indonesia

- Selasa, 17 September 2024 | 10:25 WIB
Potret Soekarno dan Hatta saat mengobrol. (kalimantarnupdate.com / NET)
Potret Soekarno dan Hatta saat mengobrol. (kalimantarnupdate.com / NET)

KALIMANTAN UPDATE - Indonesia awalnya sempat memiliki matahari kembar yang dimana dua sosok tersebut melekat pada diri Soekarno dan Mohammad Hatta, dimana juga keduannya pasca kemerdekaan RI diresmikan menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama.

Keduannya disebut matahari kembar inipun lantaran memiliki perbedaan pandangan dalam memerdekakan Indonesia, ideologi politik hingga sistem pemerintahan.

Dua tokoh proklamator Indonesia tersebut juga sempat membuat masa kepemerintahan mereka bernama Dwitunggal, sebagai salah satu kesepakatan dalam membangun Indonesia dengan ide dan konsep yang sama.

Baca Juga: Sejarah 18 Agustus di Indonesia: Disahkannya UUD 1945, Hingga Terpilihnya Soekarno dan Hatta Sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama

Namun, perlahan-lahan perbedaan pandangan keduannya pun semakin memanas pada tahun 1956, menyebabkan kemunduran Hatta sebagai Wakil Presiden dan pembubaran Dwitunggal.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan bubarnya dwitunggal, antara lain:

- Perbedaan ideologi politik

1. Soekarno cenderung berhaluan sosialis dan nasionalis, sedangkan Hatta lebih condong ke arah liberal dan demokratis.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Demokrasi Terpimpin Era Soekarno, Disertai Kelebihan Kekurangan dan Penyimpangannya

2. Soekarno menginginkan pemerintahan yang kuat dan sentralistik, sedangkan Hatta mengusung pemerintahan yang desentralistik dan menghormati otonomi daerah

3. Soekarno juga lebih mendukung hubungan dekat dengan Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur, sedangkan Hatta lebih bersimpati dengan Amerika Serikat dan negara-negara Blok Barat.

- Perbedaan sikap terhadap pemberontakan regional

1. Pada tahun 1956, beberapa daerah di Indonesia melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat dengan menuntut otonomi yang lebih luas. Pemberontakan ini dikenal dengan nama PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi.

Baca Juga: Pengaruh Perang Dingin AS-NATO vs Uni Soviet-Negara Satelitnya Bagi Indonesia

Soekarno menanggapi pemberontakan ini dengan tegas dan mengirim pasukan militer untuk menumpasnya.

Halaman:

Editor: Syaifullah

Sumber: an-nur.ac.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X